Minggu, 17 April 2016

KEUTAMAAN DZIKIR "SUBHANALLAH WA BIHAMDIHI SUBHANALLAHIL ADZIM, ASTAGHFIRULLAH"



1) suatu ketika datang seorang lelaki mengeluhkan keadaannya kepada Rasulullah saw. Ia berkata, “Dunia ini telah berpaling dariku dan yang telah kuperoleh dari tanganku sangatlah sedikit.” Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Apakah engkau tidak pernah membaca doanya para Malaikat dan tasbihnya seluruh makhluk yang dengan itu mereka mendapat limpahan rezeki?” Lelaki itu bertanya, “Doa apakah itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw menjawab, “Subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim, dan beristighfarlah kepada Allah sebanyak seratus kali diantara waktu terbitnya fajar hingga menjelang waktu shalatmu, dengan itu dunia akan tunduk dan merangkak mendatangimu, dan Allah menciptakan dari setiap kalimat tersebut Malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah hingga hari kiamat dan untukmu pahalanya.”

2) Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan kepada Allah SWT adalah kalimat subhanallah wa bihamdihi.

3) Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa mengucapkan subhanallah wabihamdihi seratus kali dalam sehari, ia akan diampuni segala dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di laut.”

4) ketika menjelang ajal Rasulullah saw, Beliau memanggil putrinya dan berkata, “Aku perintahkan engkau agar selalu mengucapkan subhanallah wa bihamdihi, karena kalimat tersebut merupakan doa seluruh makhluk dan dengan kalimat itulah semua makhluk mendapat limpahan rezeki.”

5) Abu Dzar berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw amal apakah yang paling dicintai Allah swt. Beliau menjawab, ‘Yang telah dipilih Allah untuk para Malaikat-Nya, yaitu subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim.”

6) Rasulullah Saw bersabda : “Dua kalimat yang ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan, dan disukai oleh (Allah) Yang Maha Pengasih, yaitu kalimat subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Azhim

Catatan : KERJAKAN YANG WAJIB SEBELUM YANG SUNNAH..
Semoga bermanfaat..

KAFIR dan DOMBA TERSESAT




Ga usah merasa takut atau terancam apalagi merasa dimusuhi, apabila kalian (non muslim) dijuluki KAFIR oleh orang muslim karena memang demikianlah firmanNYA bahwa kalian itu Muslim dan di luar golongan kalian namanya KAFIR.

Warga muslim juga tidak menjadikan orang non-muslim itu musuh. Mereka paham benar bahwa Islam itu rahmatan lil alamin. "Buktinya banyak orang muslim memanggil Pak Ahok, meski dia seorang Cina dan non-muslim. Tidak memanggilnya Pak Kafir atau Pak Cina”. Di kampung saya ada Pak Robert yang non-muslim, ia tetap kita panggil penuh hormat dengan panggilan Pak Robert. Tidak kita panggil Pak Kafir dan tidak kita musuhi," itulah logika sederhananya.

Memang demikianlah kalau sudah dikata "kafir" yang muncul, diakui atau tidak kebanyakan orang non-muslim, (maaf) menjadi gampang tersinggung. Entahlah.

Padahal, umat muslim tidak ambil peduli apalagi marah-marah dan memusuhi pemeluk lain, meski dalam agama lain itu dirinya disebut sebagai "domba tersesat". Bukan dianggap sebagai manusia lagi, tapi sudah sebagai ternak sembelihan. So, mari kita hargai perbedaan ini..

Dan ga usah takut apalagi gerah kalau dibilang KAFIR oleh orang MUSLIM, sebagaimana kami tidak takut dan marah dibilang “domba tersesat”.


sumber:
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/puisi-sastra/16/04/12/o5ip8q336-kupluk-domba-maroko-part4

Selasa, 12 April 2016

BULAN RAJAB


REPUBLIKA.CO.ID, Rajab, adalah bulan yang mulia dan memiliki kedudukan agung. Rajab termasuk salah satu dari empat bulan yang disucikan dan dilarang pertumpahan darah yakni, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharam. (Larangan itu berlaku di semua bulan, hanya saja, penekanan larangan itu lebih di keempat bulan itu).

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.”(QS. at-Taubah [9]: 36).

Rajab dikenal dengan beberapa sebutan. Penamaan Rajab itu menurut Ibn Faris di Maqayis al-Lughah, berarti pengagungan. Konon, masyarakat pra-Islam menghormati Rajab. Selain kata Rajab, ada pula padanan lainnya yakni  Mudhir.

Ada sejumlah alasan, kenapa Rajab disebut Mudhir. Konon Mudhir adalah salah satu kabilah arab di masa jahiliah yang tidak mengotak-atik bulan-bulan haram tersebut, agar mereka bebas melakukkan larangan-larangan itu.

Kisah itu terabadikan di surah at-Taubah ayat ke-37. Alasan lain, karena suku ini menunjukkan penghormatan yang lebih terhadap Rajab. Ini bila dibandingkan dengan suku  yang ada saat itu.

Sedangkan sebutan Rajab berikutnya yaitu Athirah. Latarbelakang pemakaian nama Athirah, lantaran masyarakat Arab pra-Islam menyembelih hewan kurban di bulan ini. Athirah, berarti hewan kurban.


Empat Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Rajab 

Rajab, mengutip Ensiklopedi Islam,  menurut bahasa artinya Keagungan. Oleh sebab itu, Rajab perlu diagungkan mengingat adanya beberapa keutamaan di dalamnya.

Rajab adalah salah satu bulan dalam kalender Hijriyah dan ia termasuk salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah sebagaimana tersebut dalam Alquran surah at-Taubah ayat ke- 36.

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan yang dimuliakan.

Inilah agama yang lurus. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri di dalam bulan yang empat itu. " Dalam ayat ini Allah menerangkan ada empat bulan yang dimuliakan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab.
Sejarah mencatat, sejumlah peristiwa penting terjadi pada bulan ini. Redaksi merangkum empat peristiwa bersejarah yang berlangsung pada Rajab, yaitu sebagai berikut:

1. Isra' Mi'raj Perjalanan Malam yang Disucikan

Isra’ Mi’raj. Dalam salah satu riwayat, disebutkan Isra’ Mi’raj terjadi pada malam Senin  27 Rajab, bertepatan dengan 621 M.

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina kemudian dari Palestina naik ke langit ke tujuh sampai ke Arsy menghadap Allah SWT.

Sebelum terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad dihadang oleh berbagai cobaan. Mulai dari pemboikotan keluarga berupa pemutusan transaksi jual beli, akad nikah, berbicara dan pergaulan. Akibatnya, Rasulullah dan keluarga hidup terisolir selama tiga tahun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Kendati demikian, muncul perbedaan pendapat terkait kapan peristiwa in terjadi. Salah satu pendapat, menyatakan Isra Mi’raj terjadi pada Rajab. Pendapat ini dirujuk oleh Ibn al-Jauzi, al-Maqdisi yang bermazhab Hanbali, dan Imam an-Nawawi di satu riwayat.

Opsi ini mendapat sanggahan dari sejumlah kalangan antara lain dari Ibn Dihyah al-Kalbi, Abu Syamah al-Maqdisi, dan Ibn Hajar al-Asqalani.

Opsi pendapat lainya menyatakan, Isra Miraj terjadi di 27 atau 17 malam Rabiul Awwal. Imam as-Sakhawi dalam kitab  Uyun al-Atsar menegaskan, opsi ini lah yang paling populer.

Pandangan ini merupakan pendapat beberapa sahabat antara lain, Ibn Abbas, Abdullah bin Amar bin al-Ash, Ummu Salamah, dan Aisyah. 

2. Kekalahan Romawi di Perang Tabuk

Rajab juga merupakan bulan kemenangan militer Rasulullah dalam Perang Tabuk, yang terjadi pada 9 Hijriyah atau 630 M, dan menandai dominasi otoritas Islam atas seluruh Semenanjung Arab

Meskipun menempuh perjalanan yang berat dari Madinah menuju Syam, sebanyak 30 ribu pasukan Muslim tetap melaluinya. Tentara Romawi yang telah berada di Tabuk siap untuk menyerang umat Islam.

Tetapi ketika mereka mendengar jumlah dan kekuatan tentara Muslim yang dipimpin oleh Rasulullah mereka terkejut dan bergegas kembali ke Syam menyelamatkan benteng-benteng mereka.

Hal ini menyebabkan penaklukan Tabuk menjadi sangat mudah dan dilakukan tanpa perlawanan. Rasulullah menetap di tempat ini selama sebulan. Beliau mengirimkan surat kepada para pemimpin dan gubernur di bawah kendali Romawi untuk membuat perdamaian. Pemimpin daerah Romawi menyetujuinya dan membayar upeti.

3. Shalahuddin Al-Ayyubi Merebut Al-Aqsha dari Tentara Salib

Peristiwa lainnya yaitu terjadinya pada bulan ini, adalah pembebasan Yerussalem dari cengkaraman Tentara Salib Eropa yang telah memerintah selama hampir satu abad.

Peristiwa ini terjadi pada Rajab 1187 M yang dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Penaklukan ini bukan hanya karena pentingnya Yerusalem dalam Islam, tetapi juga karena sepak terjang Tentara Salib menaklukkan negeri-negeri Muslim.

Menaklukkan Yerusalem, Shalahuddin masuk ke gerbang kota dengan damai. Tak ada pembantaian warga sipil. Sultan Ayyubiyah ini menjamin keselamatan dan kebebasan beribadah semua pemeluk agama.
Terkecuali, pasukan Salib yang dia minta keluar dari kota. Hal pertama yang dilakukan Shalahuddin saat memasuki Yerusalem adalah mencopot tiang salib dari atas Kubah Batu.

Carole Hillenbrand dalam The Crusade: Islamic Perspective, mengisahkan, sebuah salib besar dipancangkan di atas kubah batu pada masa penaklukkan Yerusalem oleh kaum Frank. Mereka menghiasi al-Aqsha dengan patung, altar  dan gambar bunda Maria.

“Ketika kaum Muslim memasuki kota itu, pada hari Jumat, sekelompok orang naik ke puncak kubah untuk menurunkan Salib itu. Ketika mereka telah tiba di puncak Kubah, semua orang berteriak bersama-sama,” kenang Hillenbrand.

Tentara Salib berulang kali mencoba merebut kembali Yerusalem dari tangan Shalahuddin, tetapi selalu teratasi. Hingga kematian Shalahuddin pada 1193, Dinasti Ayyubiyah masih menguasai Yerusalem.

4. Runtuhnya Kesultanan Ottoman di Turki

Berabad-abad kemudian, tepatnya pada 1924 M, pada Rajab kembali menuliskan sejarah bagi umat Islam. Namun kali ini, tidak seperti peristiwa sebelumnya.

Sejarah yang terjadi Pada 28 Rajab ini merupakan runtuhnya Kesultanan Ottoman di Turki yang dihapus oleh Mustafa Kemal Ataturk.

Namun, ungkap William L & Martin Bunton dalam bukunya A History of the Modern Middle East, kehidupan masyarakat Turki berubah ketika Turki dinyatakan sebagai sebuah negara sekuler.

Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad digantikan oleh sistem Barat.

Di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, ia melakukan reformasi secara menyeluruh baik reformasi sosial, ekonomi, dan administrasi.


 
SUMBER :
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/16/04/12/o5icfx320-alasan-disebut-rajab-dan-nama-lain-bulan-ini 
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/04/11/o5fllk320-inilah-empat-peristiwa-penting-yang-terjadi-di-bulan-rajab

Jumat, 08 April 2016

Bab SHOLAT : IMAM MEMBALIKAN BADAN SETELAH SALAM



1.      seringkali kita perhatikan dalam sebuah shalat berjamaah, imam membalikkan badan setelah selesai shalat ketika zikir. Terkadang diputar 90 derajat tapi kadang ada juga yang berputar 180 derajat menghadap kepada makmum. Lalu apa dasar syariahnya (dalil/hadist)
2.      Berapa lamakah imam harus menggeser atau memutar tubuhnya, apakah begitu selesai salam langsung putar atau baca-baca dulu.

Jawab :

Pertama :
tentang imam shalat yang berputar posisi menghadap ke jamaah atau ke kanan atau ke kiri, semua memang ada dalil haditsnya. Semua merupakan rekaman para shahabat ketika ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beberapa di antara hadits yang menyebutkan tentang perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai shalat kemudian menghadapkan wajahnya kepada makmum adalah hadits berikut ini:
Dari Samurah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami.[HR. Bukhari]

Terkadang beliau tidak sepenuhnya menghadap kepada makmum, melainkan hanya berputar 90 ke arah kanan, sehingga makmum ada di sisi kanan dan kiblat ada di sisi kiri beliau. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini.
Dari Anas radhiallahu ‘anhu berkata, Seringkali aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berputar ke kanan .[HR. Muslim]

Namun terkadang beliau malah menghadap ke arah kiri 90 derajat, sehingga makmum ada di sisi kiri dan kiblat ada di sisi kanan, sebagaimana juga ada dalilnya berikut ini.
Dari Qushaibah bin Hulb dari ayahnya bahwa dia shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berputar ke dua arah .

Bahkan ada hadits yang menyebutkan beliau menghadap ke kanan dan ke kiri. [HR. Abu Daud, Ibnu Majah, At Tirmidzi, dan hadits ini Hasan].
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, Seringkali aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berputar ke kiri .[HR. Bukhari dan Muslim]

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menyebutkan bahwa dengan adanya beberapa dalil di atas, bisa disimpulkan bahwa memang terkadang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat menghadap ke belakang, terkadang menghadap ke samping kanan dan terkadang menghadap ke samping kiri.
Karena demikian rupa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, maka buat kita hal itu menjadi teladan dan ikutan dalam ibadah shalat.
Meski pun demikian, dari segi hukum tidak sampai kepada wajib, tetapi sunnah dan anjuran.

Kedua
Jarak Antara Salam dan Bergeser
Adapun berapa lama jarak antara salam dengan memutar tubuh menghadap ke belakang atau ke samping, kita juga menemukan beberapa hadits yang berbicara tentang itu.
Yaitu sekedar beliau membaca istighfar tiga kali, lalu membaca lafadz Allahumma antassalam dan seterusnya, kemudian beliau segera merubah posisi atau bergeser atau berputar.
Dari Tsauban bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai dari shalatnya, beliau bersitighfar tiga kali kemudian mengucapkan: Allahumma antas-salam.[HR. Muslim]

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila salam tidak duduk kecuali sekedar membaca: Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya dzal jalali wal ikram. [HR. Muslim]

Catatan :
·         Selesai sholat imam sunah menghadap ke makmum baik ke kiri atau kekanan (900) maupun menghadap jamaah (1800)
·         Lalu bagaimana bila setelah selesai sholat imam tidak menghadap jamaah ?
o   Kembali kepada hukum bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan sunah (boleh dilakukan dan boleh tidak) dan hal tersebut tidak membatalkan sholat karena sholat telah selesai (sholat : diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam)
·         Lalu bagaimana bila imam menghadap ke jamaah sebelum beristighfar dan membaca “Allahumma antassalam….”
o   Kembali bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan sunah, hanya…. Imam yang demikian melakukan perbuatan sunah (berbalik badan) tetapi meninggalkan perbuatan sunah yang lainnya (membaca istighfar dan Allahumma antasalam)
o   Dan terkadang imam yang membalikan badan setelah salam lalu berdzikir tetapi ketika berdoa ia tidak kembali menghadapkan badannya ke arah kiblat (sunah berdoa menghadap kiblat). Dan itu artinya imam melakukan sunah dengan meninggalkan sunah lainnya. Apakah boleh yang demikian ? boleh, maka kembali kepada hukum dasar tentang perbuatan sunah, wajib dan haram

Daftar istilah
1.      Wajib, kadang disebut Fardlu. Keduanya sinonim. Yakni sebuah tuntutan yang pasti (thalab jazm) untuk mengerjakan perbutan, apabila dikerjakan mendapatkan pahala, sedangkan bila ditinggalkan maka berdosa (mendapatkan siksa). Wajib terbagi menjadi dua yakni : Pertama, wajib ‘Ainiy : kewajiban bagi setiap individu. Kedua, wajib Kifayah : kewajiban yang apabila sudah ada yang mengerjakannya maka yang lainnya gugur (tidak mendapatkan dosa),
2.      Sunnah, Yakni sebuah anjuran mengerjakan yang sifatnya tidak jazm (pasti), apabila dikerjakan mendapat pahala, namun apabila ditinggalkan tidak berdosa.
3.      Mubah, bila dikerjakan atau ditinggalkan tidak apa-apa, tidak mendapatkan pahala atau pun disiksa (sebuah pilihan antara mengerjakan atau tidak). Misalnya, memilih menu makanan dan sebagainya. 
4.      Makruh, yakni sebuah tuntutan yang tidak pasti (tidak jazm) untuk meninggalkan perbuatan tertentu (larangan mengerjakan yang sifatnya tidak pasti), apabila dikerjakan tidak apa-apa, namun bila ditinggalkan akan mendapatkan pahala dan dipuji.  
5.       Haram, yakni tututan yang pasti untuk meninggalkan sesuatu, apabila dikerjakan oleh seorang mukallaf maka mendapatkan dosa, namun bila ditinggalkan mendapatkan pahala.

Imam Syafii berkata, "Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak sia-sia." (Matan Zubad, juz I, hlm 2, Majallatul buhuts al-Islamiyah, juz 42, hlm 279).
Semoga bermanfaat
La illaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimin.