Kamis, 20 Oktober 2022

BAB Shalat: Sepuluh Rakaat Rawatib dalam Sehari dan Shalat Bakdiyah Jumat

 Bulughul Maram – Shalat: Sepuluh Rakaat Rawatib dalam Sehari dan Shalat Bakdiyah Jumat

Rumaysho.Com / Muhammad Abduh Tuasikal, MSc / 13 jam yang lalu

Berikut adalah keterangan dalam hadits yang membicarakan shalat rawatib dalam sehari sebanyak sepuluh rakaat.  

Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani

Kitab Shalat

بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع

Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)

 

Shalat Sunnah Rawatib yang Mengikuti Shalat Wajib

Hadits 2/351

عَنِ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنَ النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ: رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَفِي رِوَايةٍ لَهُمَا: وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمعَةِ فِي بَيْتِهِ.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat, yaitu: dua rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib di rumahnya, dua rakaat bakda Isyak di rumahnya, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1180 dan Muslim, no. 729]

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, “Dua rakaat bakda Jumat di rumahnya.” [HR. Bukhari, no. 937 dan Muslim, no. 729]  

Hadits 3/352

وَلِمُسْلِمٍ: كَانَ إذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّي إلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْن.

Menurut riwayat Muslim disebutkan, “Apabila telah terbit fajar, beliau tidak shalat kecuali dua rakaat yang ringan.” [HR. Muslim, no. 723, 88, dari jalur Zaid bin Muhammad, ia berkata bahwa ia mendengar Nafi’ berkata dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshah].  

Hadits 4/353

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَدَعُ أَرْبَعاً قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan shalat sunnah empat rakaat qabliyah Zhuhur dan dua rakaat qabliyah Shubuh. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1182]  

Faedah hadits

  1. Hadits ini jadi dalil mengenai anjuran melaksanakan shalat rawatib yang disebutkan dalam hadits di atas: (a) dua rakaat qabliyah Zhuhur, (b) dua rakaat bakdiyah Zhuhur, (c) dua rakaat bakdiyah Jumat, (d) dua rakaat bakdiyah Maghrib, (e) dua rakaat bakdiyah Isyak, (f) dua rakaat ringan qabliyah Shubuh.
  2. Menurut hitungan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, shalat rawatib itu ada sepuluh rakaat. Dua rakaat rawatib Jumat menggantikan shalat sunnah rawatib Zhuhur, di mana shalat rawatib Jumat tidak diulangi tiap hari.
  3. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menghafalkan shalat sunnah rawatib dari yang ia saksikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid atau di rumah saudara Ibnu ‘Umar yaitu Hafshah binti ‘Umar yang menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau beliau saksikan juga di tempat lainnya. Yang jelas, Ibnu ‘Umar itu bukan tinggal di rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi di rumah bapaknya, yaitu ‘Umar.
  4. Hadits Ummu Habibah menunjukkan bahwa shalat sunnah rawatib itu ada dua belas rakaat dalam sehari. Faedahnya akan dibangunkan rumah di surga.
  5. Ibnu ‘Umar mengatakan bahwa shalat rawatib itu ada sepuluh rakaat dalam sehari, sedangkan hadits Ummu Habibah dan ‘Aisyah menyatakan ada dua belas rakaat. Kesimpulannya adalah kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan rawatib dalam sehari sebanyak sepuluh rakaat, kadang beliau melakukannya dua belas rakaat.
  6. Hadits ini menunjukkan bahwa rawatib Jumat, Maghrib, dan Isyak dilakukan di rumah, itu lebih utama (afdal). Demikian pula, shalat sunnah qabliyah Shubuh dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya dan sudah masyhur seperti itu. Shalat sunnah rawatib Zhuhur juga di hadits lainnya menunjukkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di rumah.
  7. Shalat sunnah di rumah itu memiliki keutamaan yang besar yaitu: (a) menyempurnakan khusyuk, ikhlas, dan jauh dari riya’; (b) kebaikan yang banyak muncul di rumah yaitu datang rahmat, jauh dari setan, pahala semakin banyak, dan ada pula suri tauladan dalam hal shalat yang diberikan di rumah; (c) agar rumah tidak menjadi seperti kuburan; (d) mengikuti perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melakukan shalat sunnah di rumah.
  8. Syaikh Muhammad Az-Zuhaily berkata bahwa shalat sunnah malam afdalnya dilakukan di rumah daripada di masjid. Hal ini berbeda dengan shalat sunnah di siang hari, ada ikhtilaf di dalamnya.
  9. Shalat ini disebut dengan shalat sunnah rawatib yang mengikuti shalat wajib. Hikmahnya adalah untuk menutupi kekurangan pada shalat wajib (seperti kekurangan dalam hal khusyuk, kurang dalam tadabbur).
  10. Shalat sunnah rawatib yang sepuluh rakaat (dalam hadits Ibnu ‘Umar) disebut shalat rawatib muakkad.
  11. Yang paling utama dari shalat rawatib adalah shalat sunnah Fajar (qabliyah Shubuh).
  12. Mengerjakan shalat sunnah selain qabliyah Shubuh di waktu Shubuh tidaklah makruh. Demikian pendapat dalam madzhab Syafii karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang.
  13. Disunnahkan mengerjakan shalat sunnah rawatib Zhuhur qabliyah maupun bakdiyah masing-masing sebanyak empat rakaat dengan pengerjaan setiap dua rakaat salam.

Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad  

Manfaat Lain Shalat Sunnah di Rumah: Bumi Jadi Saksi pada Hari Kiamat

Mengerjakan shalat sunnah di rumah adalah supaya mendapat banyak saksi pada hari kiamat. Sebagaimana keutamaan ini disebutkan oleh Prof. Dr. Musthofa Al-Bugha dalam Al-Fiqh Al-Manhaji (1:159) ketika menjelaskan amalan sunnah sesudah shalat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat,

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah : 4).

Rasul lalu bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا

“Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi jadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, “Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR. Tirmidzi, no. 2429. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Namun, hadits ini punya penguat dalam Al-Kabir karya Ath-Thabrani 4596, sehingga hadits ini dapat dikatakan hasan sebagaimana kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin, 1:439).

Baca juga: Manfaat Shalat Sunnah di Rumah  

Referensi:

  • Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:268-271.
  • Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:576-581.