Selasa, 10 Mei 2022

Hukum Menggabungkan Puasa Qada Ramadan dengan Puasa Syawal

Hukum Menggabungkan Puasa Qada Ramadan dengan Puasa Syawal

Menggabungkan puasa qada Ramadan dengan puasa 6 hari Syawal disebut dengan “tadakhulul ibadaat” atau “tasyrikun fiin niyah“. Yaitu, satu amalan ibadah yang diniatkan untuk melakukan dua ibadah atau lebih sekaligus.

Apakah bisa menggabungkan niat puasa qada Ramadan dengan puasa Syawal? Pendapat terkuat yang kami pegang adalah TIDAK bisa digabung karena dua alasan:

Pertama: Puasa Syawal adalah “mutabi’ah” (mengiringi) puasa Ramadan.

Kedua: Puasa Syawal adalah ibadah “maqshudah binafsiha“‘ yaitu ibadah yang menjadi tujuan yang berdiri sendiri.

Ada pendapat lain juga, yaitu bisa digabungkan. Hal ini karena jika seseorang melakukan puasa qada 6 hari selama bulan Syawal berarti secara zahir dia sudah termasuk puasa 6 hari di bulan Syawal. Akan tetapi, tidak mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh karena zahir hadis juga menunjukkan bahwa pahala setahun penuh apabila telah tuntas puasa Ramadan, lalu diikuti puasa Syawal. Jadi, yang terpenting tetap saja motivasinya harus qada atau menuntaskan puasa Ramadan dahulu baru puasa Syawal.

Berikut pembahasan poin di atas:

Pertama: Puasa Syawal adalah “mutabi’ah” (mengiringi) puasa Ramadan

Contoh ibadah mutabi’ah adalah salat sunah rawatib, yaitu salat qabliyah (sebelum salat wajib) dan ba’diyah (setelah salat wajib). Apakah bisa digabung niat ibadah salat rawatib sekalius salat wajib? Tentu tidak bisa. Oleh karena itu, pada ulama membuat kaidah fikih yang berbunyi,

إذا كانت العبادة تبعاً لعبادة أخرى فإنه لا تداخل بينهما

“Apabila ibadah tersebut ‘mengiringi’ (mutabi’ah) dengan ibadah lainnya, maka tidak bisa ‘tadaakhul’ (digabungkan niat) di antara keduanya”

Kedua: Puasa Syawal adalah ibadah “maqshudah binafsiha” yaitu ibadah yang menjadi tujuan yang berdiri sendiri

Para ulama membagi dua jenis ibadah yaitu ibadah “maqashudah binafsiha” dan ibadah “laisat maqshudah binafsiha“. Ibadah “maqshudah binafsiha” adalah ibadah yang menjadi tujuan dan berdiri sendiri seperti ibadah salat wajib, puasa wajib, zakat, dan lain-lainnya. Adapun ibadah “laisat maqshudah binafsiha” adalah ibadah yang bukan menjadi tujuan utama. Artinya, ibadah tersebut yang penting dilakukan sesuai dengan alasan yang menjadi ibadah tersebut diperintahkan, meskipun ibadah itu dilakukan dengan ibadah lainnya

Baca Juga: Fatwa Ulama: Puasa Syawal ketika Masih Memiliki Hutang Puasa Ramadan

Contohnya adalah salat tahiyatul masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فإذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يركع ركعتين

“Jika seseorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah dia duduk

sampai dia mengerjakan salat dua rakaat.” (HR. Muslim)

Jika seseorang masuk masjid, yang penting adalah dia salat dua rakaat sebelum duduk dengan jenis ibadah salat apa pun. Misalnya, salat qabliyah dua rakaat atau salat sunah wudu dua rakaat. Jadi dalam hal ini, niat ibadahnya bisa digabungkan dalam satu salat (dua rakaat) antara salat tahiyatul masjid dengan salat qabliyah atau salat sunah wudu.

Adapun ibadah yang kedua-duanya adalah “maqshudah binafsiha“, maka tidak dimungkinkan penggabungan niat ibadah. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan kaidahnya,

إذا كانت العبادة مقصودة بنفسها ، أو متابعة لغيرها ، فهذا لا يمكن أن تتداخل العبادات فيه

Apabila ibadah tersebut adalah maqshudah binafsiha atau mutabi’ah (mengiringi) ibadah lainnya, maka tidak mungkin dilakukan tadakhul ibadah.” (Liqa’ al-Bab Al-Maftuh, 15: 51)

Apabila puasa qada Ramadan digabungkan dengan puasa sunah Syawal, maka tidak mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh. Syekh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah menjelaskan,

وأما أن تصوم الست بنية القضاء والست فلا يظهر لنا أنه يحصل لها بذلك أجر الست، فالست تحتاج إلى نية خاصة في أيام مخصوصة. نعم

“Apabila Engkau puada enam hari Syawal dengan sekaligus niat puasa qada, maka tidak mendapatkan pahala puasa setahun. Puasa enam hari Syawal membutuhkan niat khusus (niat sendiri) pada hari-hari yang khusus.

Apabila menghendaki qada Ramadan sekaligus ibadah yang lain (tadakhul), bisa dilakukan ketika puasa puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (puasa pada tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan Hijriyah), atau puasa 3 hari setiap bulan (pada hari apa saja setiap bulan hijriyah). Demikian semoga bermanfaat

@Lombok, pulau seribu masjid

Penulis: Raehanul Bahraen

Rabu, 09 Februari 2022

BUKAN GHIBAH

 




Masih ada orang yang tidak bisa membedakan antara Ghibah (membicarakan aib seorang Muslim), dengan Syahadah (kesaksian), dan Iqomatul Hujjah (menegakkan hukum agama).

1. Jika Ada Penipu

Telah sekian banyak orang menjadi korbannya. Lalu, kita buat poster yang berisi identitas dan fotonya. Kemudian kita sebar.

Selanjutnya kita siarkan, agar masyarakat berhati-hati dan terlindungi dari kejahatan (penipuan) orang tersebut, maka itu ‘Kesaksian’, bukan ‘Ghibah’.

Itu bentuk Nahi Mungkar yang sangat tinggi nilainya.

2. Jika Ada Seorang Saksi Mata Bersuara Lantang di Pengadilan

Ia sampaikan apa saja yang ia lihat. Ia bongkar identitas semua pelaku kejahatan, maka itu bukan ‘Ghibah’, tapi ‘Syahadah’ alias ‘Kesaksian’.

Agar hukum ditegakkan atas para penjahat. Beresiko. Namun, ia harus lakukan.

Jika ia menolak bersaksi, ia berdosa, karena dianggap menutupi kejahatan.

Jika ia bicara tidak sesuai fakta, itu pun dosa, karena ia telah memberikan Kesaksian Palsu.

3. Ada Pejabat, Dipilih dengan Uang Rakyat

Biaya pemilihannya habis banyak. Setelah terpilih, makan-minum dan fasilitas hidupnya, semua ditanggung oleh rakyat, tapi kerjanya hanya menyusahkan rakyat.

Kritik dari rakyat itu bukan ‘Ghibah’, tapi ‘Kesaksian’.

Bahkan, kritik kepada pejabat yang lalim seperti ini, dalam pandangan agama adalah bagian dari pada Amar Makruf Nahi Mungkar.


4. Kisah

Suatu hari, Hindun datang kepada Rasulullah, untuk mengadukan Abu Sufyan, suaminya.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu, suami yang pelit bin bakhil. Ia tidak memberikan nafkah kepadaku, bolehkah aku ‘mencuri’ uangnya untuk kebutuhanku dan anakku?”

Dalam kasus ini, Hindun membongkar aib suaminya di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak menegurnya karena telah membicarakan aib suaminya.

Bahkan beliau, memperbolehkan Hindun, mengambil uang suaminya tanpa sepengetahuan sang suami, untuk keperluannya dan anak-anak.

Apa yang dilakukan Hindun ini, bukan ‘Ghibah’, tapi ‘Syahadah’ alias ‘Kesaksian’.

Ia harus membuka aib suaminya, agar ia mendapatkan keadilan.

5. Contoh

Ada seorang pemikir Liberal. Aktif menyebarluaskan pemikiran sesatnya di tengah masyarakat. Lewat ceramah-ceramah dan tulisan-tulisannya.

Hingga perlahan-lahan, bertambahlah pengikutnya, dan makin kuat posisinya. Mereka merasuk ke semua lini.

Lalu, kita bongkar identitasnya dan kita kritik pemikirannya.

Itu bukan ‘Ghibah’, tapi ‘Iqomatul Hujjah’ (menegakkan hukum agama).

6. Contoh II

Kalau kita belajar ilmu mushtolahul hadist, kita akan temui bab Al jarh wa at ta’dil.

Saking pentingnya, bab ini bahkan oleh sebagian ulama, ditulis dalam kitab tersendiri.

Apa isinya? Membicarakan aib orang; si Fulan ini tukang bohong. Si Fulan ini lemah ingatannya. Si Fulan ini tukang memalsukan hadist, dan seterusnya.

Tapi Imam Ahmad menyebut ‘Ghibah’ dalam konteks ini adalah bagian dari ibadah.

Sebab, agama menjadi terjaga. Warisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetap dalam keasliannya.

Terbongkar juga upaya musuh-musuh agama, untuk merusak tatanan agama ini.

“Demikianlah kami jadikan kalian umat yang wasath, agar kalian menjadi saksi-saksi atas perbuatan manusia,” (QS. Al-Baqarah: 143).

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian aktif mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta kalian beriman kepada Allah,” (QS. Ali Imran: 110).

“Kalian adalah saksi-saksi Allah di atas muka bumi ini,” kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam sebuah hadits shahih.

7. Bijak yang Salah

Maka jangan bersikap sok bijak, dengan berkata: “Afwan ukthi, jangan ‘Ghibahi’ si Fulan, karena bla… bla… dan bla….”

Terhadap Muslim yang shalih dan baik, pasti kita bersikap lemah lembut dan bijak.

Tidak mungkin Kita bongkar aib pribadinya. Tidak boleh Kita umbar kekurangannya.

Tapi kepada kaum sekuler, kapitalis, liberal, yang radikal, tidak perlu lagi bersikap lemah lembut.

Kita harus lawan pemikirannya, sekeras-kerasnya.

Itulah perjuangan, karena kebenaran (bela Allah, bela Rasulullah, bela Agama dan tegakkan keadilan) memang harus diperjuangkan, tanpa mengenal waktu dan tempat.

Di manapun kita berada, kita harus aktif mengajak kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta kita beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Surat At-Tahrim Ayat 9:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ ‘alaihim, wa ma`wāhum jahannam, wa bi`sal-maṣīr

Artinya: “Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.”

Wallahu a’lam.

Selasa, 04 Januari 2022

TIDAK ADA SUAMI YG JUJUR



 TIDAK ADA SUAMI YG JUJUR 🥺🥺🥺

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering dicaci maki bosnya.?😔😔

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering mendapat hinaan di luar sana.?😫😫

Taukah dirimu mungkin suamimu bahkan baru saja mempertaruhkan nyawanya demi dirimu dan anak" mu.😇😇

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering menahan lapar demi bisa pulang membawa uang.🥲🥲


Sebelum engkau cemberut padanya,,,

Hitung lah dulu telah berapa juta tetes keringat engkau peras dari tubuhnya.🥺🥺

Sebelum engkau marah padanya,,,

Tataplah lekat-lekat matanya, mungkin tanpa kamu sadari mata itu telah banyak mengeluarkan air mata demi melihat dirimu tersenyum 😊 😞 


Ketahuilah

Bila sampai hari ini dia belum bisa memenuhi segala keinginanmu, itu hanya karena faktor keadaan.

Tak seorang pun kepala keluarga yg tidak ingin melihat keluarganya bahagia.

Sebelum engkau marah kepadanya, lihatlah dan renungkan lah apa yg telah dilakukan oleh seorang suami.

Betapa suamimu sudah kerja keras banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebagian ayah tak pandai menceritakan kepedihannya pada anak istrinya, ia telan sendiri. 

Ia tak mau anak istrinya tahu betapa susahnya ia berjuang.. Ia hanya ingin anak istrinya bangga terhadap dirinya, terhadap pekerjaannya..


Untuk para ayah di mana pun berada. 

Smoga lelahmu menjadi berkah,


 Amiin ya Allah..🤲


Sayang istri 

Senin, 20 Desember 2021

Toleransi antar ummat

 Toleransi Beragama

40 menit yang lalu


TOLERANSI ANTARA UMAT BERAGAMA

Muslim: "Bagaimana natalmu?"

Nasrani: "Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku...?"

Muslim: "Tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya melarangnya."

Nasarani: "Tapi kenapa? Bukankah ucapan selamat natal itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain, mengucapkannya padaku."

Muslim: "Mungkin mereka belum mengetahuinya... kau bisa mengucapkan dua kalimat Syahadat?"

Nasrani: "Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya... Itu akan mengganggu kepercayaan saya..."

Muslim: "Kenapa? Bukankah hanya kata-kata?"

Nasrani: "Ya, sekarang saya mengerti. Terima kasih teman."

***

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

(Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.)

Ucapan selamat NATAL

 Soal Pejabat Muslim Ucapkan Selamat Natal, Begini Kata Ustaz Adi Hidayat


Ustaz Adi Hidayat bicara mengenai polemik ucapan Selamat Natal bagi umat Islam. Setiap Natal selalu timbul pro kontra pembahasan mengenai boleh tidaknya umat Islam mengucapkan Selamat Natal.

Ustaz Adi Hidayat membahas mengenai hukumnya umat Islam mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani. Menurut Ustaz Adi Hidayat, dalam Natal ada ibadah umat Kristiani.

Ustaz Adi Hidayat mengatakan dalam Natal ada perayaan ibadah yaitu datang ke gereja melakukan kebaktian.

“Natal tidak berdiri sendiri. Natal ada nuansa ibadahnya,” kata Adi Hidayat.

Karena Natal adalah ibadah, lanjut Ustaz Adi, maka skema toleransi umat Islam adalah membiarkan umat Kristiani beribadah sesuai dengan keyakinanya masing-masing tanpa mencampurinya sedikitpun baik dengan perkataan, atau susana hati tertentu apalagi perbuatan.

“Seperti ikut-ikutan ke gereja misalnya atau menyimak kebaktian atau mengenakan pakaian-pakaian khusus dipahami ibadah di agama tertentu,” ujar Ustaz Adi Hidayat.

Karena itu Ustaz Adi Hidayat berharap tidak ada pemaksaan oleh pusat perbelanjaan bagi karyawan beragama Islam untuk menggunakan pakaian khas Natal.

Lalu membahas mengenai ucapan Selamat Natal, menurut Ustaz Adi Hidayat di Natal ada unsur ibadah dimana berbeda konsepsi Ketuhanannya dengan Islam, lau ada unsur penyembahan dan peribadahan.

“Kalo kita ucapkan (Selamat Natal) ada pengakuan di situ. Sementara komitmen La ilaha illallah adalah tidak menuhankan kecuali hanya Allah saja. Jadi kalo ada konsepsi bertentangan dengan La ilaha illallah kita mesti tolak,” jelas Adi Hidayat.

Ustaz Adi Hidayat, setiap pemeluk agama itu harus meyakini agamanya yang paling benar. Bentuk toleransinya ujar dia, adalah dengan membiarkan pemeluk agama lain beribadah.


Kunjungi website

Jumat, 03 Desember 2021

Zikir Pembuka ratib




 بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّحِيْمِ

للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

وَ بَعْدُفَاءِنَّا وَ الحَمْدُللهِ قَدْ رَضِينَا بِااللهِ ربًّ وَ بِالاْ ءِسْلاَمِ دِينَا وَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَ رَسُو لاً، وَبِا لْقُرْاَنِ إِمَا مَا، وَ بِا لْكَعْبِةِ قِبْلَةً. وَ بِا لْمُؤْ مِنِيْنَ إِخْوَا نَا وَ تَبَرَأْنَامِنْ كُلِّ دِينٍ يُخَالِفُ دِينَ الاْءِسْلاَمِ وَ أَمَنَّابِكُلِّ كِتَابٍ أَنْزَلَهُاللهُ وَ بِكُلِّ رَسُولٍ أَرْسَلَهُ اللهُ وَ بِمَلاَءِكَةِ اللهِ، وَ بِلْقَدَرِ خَيرِهِ وَ شَرِّ هِ، وَ بِلْيُوْمِ اْلاءَ خِرِ وَ بِكُلِّ مَا جَا ءَ بِهِ مُحَمَّدٍ رسول الله صليعليه و سلم عَنِ اللهِ، عَلَى ذَلِكَ نَحْيَا وَ عَلَيْهِ نَمُوْتُ وَعَلَيهِ نُبْعَثُ إِنْ شَِا ءَ اللهُ مِنَ اْلاَمِنِيْنَ الَّذِينَ لاَخَوْفٌ عَلَيهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ.

Jumat, 26 November 2021

GA USAH BAWA-BAWA AGAMA


Konon ada Sebuah percakapan  diantara 2 org muslim :

Bro: “Bray…”

Bray: “Ape bro?”

Bro: “Jangan bawa-bawa agama deh bray kalo ngomongin capres 2024…”

Bray: “Apanya?”

Bro: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyoblos aja masih aja bawa-bawa agama.”

Bray: “Gitu ya bro?”

Bro: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray.”

Bray: ”Ya udah, tapi tolong kasih tau, ini Islam agama gue mesti ditaro dimana?”

Bro: “Maksudnya?”

Bray: “Iya, tolong kasih tau gue, mesti ditaro mana ini Islam?”

Bro: “Maksudnya gimana bray? Gue gak ngerti.”

Bray: “Iya, kan lo suruh gue jangan bawa-bawa agama kan? Nah gue bingung bro. Kalo gue gak boleh bawa-bawa agama, Islam mesti gue taro mana? Soalnya Islam mengatur dari mulai gue bangun tidur sampai mau tidur lagi. Bangun tidur diatur, masuk kamar mandi diatur, berpakaian diatur, mau makan diatur, keluar rumah diatur, berpergian diatur, bertetangga diatur, berbisnis diatur, bahkan sampai urusan mau indehoy ama bini aja diatur. 

Bahkan lagi bro, sorry banget nih ya bro, urusan cebok aja ada aturannya! Yang lebih heran lagi bro, itu aturan malah sampe ada doanya segala bro. Bayangin, sampai semuanya ada doanya! Lengkap banget! …” ..Apalagi urusan memilih pemimpin bro .  !!! Islam aja sdh larang memilih Pemimpin Kafir .. 

Hening …

Bray: “Makanya dalam semua urusan, akhirnya gue bawa-bawa Islam. Nah, kalau gue sekarang gak boleh bawa-bawa agama, sok atuh kasih tau KAPAN dan DIMANA gue bisa lepasin agama Islam gue?”

Bro: “Errr… Gak gitu-gitu amat kali bray…”

Bray: “Iya gue juga tadinya mikir gitu bro. Gak perlu gitu-gitu amatlah. Tapi lama-lama gw perhatikan justru itulah bedanya Islam. Islam itu ya emang gitu bro. Gak cuma ritual yang diatur, tapi cara hidup. Islam memang hadir untuk mengatur hidup kite sebagai manusia bro. Emang lo gak mau hidup lo jadi lebih bener bro?”

Bro: “Err … mmmh …. Ya mau sih bray…”

Bray: “Nah! Kalo gitu mesti mau dong diatur ama Islam. Kan lo udah syahadat, agamalo islam lah? Jangan cuma lahir, nikah bahkan mati baru lo pake tu Islam, giliran soal2 hidup dan kehidupan yang udah diatur sama Islam, kagak lo pake, muna itu bro..."

Bro: “Ya tapi gak usah jadi fanatik gitulah bray, serem dengernya…”

Bray: “Harusnya gimana bro?”

Bro: “Ya diem-diem ajalah. Masing-masing aja. Kan Allah lebih tau gimana cara gw ber-Islam. Iya kan?”

Bray: “Iya sih….”

Bro: “Nah iya kan?”

Bray: “ Tapi kebayang ya bro?”

Bro: “Kebayang apa bray?”

Bray: “Iya, kalo Islam memang hanya untuk diem-diem aja, untuk masing-masing pribadi aja, bukan untuk dishare ke orang lain, kira-kira bakal sampe gak ya hidayah Islam ke kita sekarang? Kalo dulu Nabi Muhammad ber-Islam sambil diem-diem aja, buat sendirian doang, bakal nyampe gak ya Islam ke kita bro?”

…. Hening lagi ….

Bro: “Bray …”

Bray: “Ya bro?”

Bro: “Gue cabut dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Daaaah…”

Bray: “Loh koq buru-buru bro? Ya udah hati-hati ya bro, Islamnya tetap dibawa...  jangan ditinggal di sini ya.... "


#BawalahIslamKemanaMana