Jumat, 26 November 2021

Kisah : sahabat Umar bin Khatab

 AKHLAK YANG MULIA


"Akhlak yang mulia adalah, merendahkan diri kamu ketika memiliki kedudukan yang tinggi, menampakkan kecukupan ketika kamu berada di dalam kekurangan dan juga hidup sederhana ketika kamu memiliki kekayaan"


GAJI KHALIFAH UMAR BIN KHATAB رضي الله عنه 

Suatu hari Sayyidina Ali Bin Abu Tholib رضي الله عنه, Talhah رضي الله عنه dan salah satu Sahabat lain-nya mendatangi Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, putri Sayyidina Umar Bin Khatab رضي الله عنه yang juga salah satu Istri Rasulullah ﷺ. Maksud kedatangan ke tiga sahabat Rasulullah ﷺ itu adalah untuk mengusulkan agar gaji Umar رضي الله عنه sebagai Khalifah (Presiden) di naikkan, karena gaji yang sekarang di terima oleh Umar رضي الله عنه di pandang terlalu kecil, untuk menyampaikan langsung pada Umar رضي الله عنه ke tiga sahabat ini merasa takut jika Umar رضي الله عنه nanti malah marah, maka ketiga sahabat Nabi ﷺ tersebut menemui Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا dan meminta tolong agar Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-lah yang menyampaikan usulan tersebut kepada Umar رضي الله عنه Sang Khalifah waktu itu. 


Salah satu alasan usulan untuk menaikkan gaji Khalifah. Ini lantaran melihat kondisi setiap kali menerima tamu negara, Umar رضي الله عنه tidak pernah berpakaian yang mewah. 


Benar saja, ketika Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا menyampaikan usul ketiga sahabat Rasulullsh ﷺ tersebut, Wajah Umar Bin Khatab رضي الله عنه langsung merah padam menahan marah, 

Sayyidina Umar رضي الله عنه pun berkata :

“Siapa ya Hafsah yang berani-beraninya mengusulkan gaji-ku sebagai Khalifah supaya di tambah, biar orang itu aku tempeleng ?” tanya Umar رضي الله عنه dengan nada keras. 


Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-pun menjawab “Aku akan mengatakan-nya siapa orang itu, tapi aku ingin tahu lebih dulu bagaimana pendapat engkau sebenarnya dengan usulan itu”, jawab Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا dengan tenang. 

.

“Wahai Hafsah, 

Engkau sebagai istri Rasulullah ﷺ ceritakan padaku, bagaimana Rasulullah ﷺ dulu sewaktu masih hidup dan menjabat sebagai Khalifah”, kata Umar رضي الله عنه selanjutnya. 

.

Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -pun menerangkan dengan senang hati, Selama aku mendampingi Rasulullah ﷺ sebagai salah satu istri, Beliau ﷺ sebagai seorang Khalifah (Presiden), Rasulullah ﷺ hanya mempunyai dua stel baju, berwarna biru dan merah, Rasulullah ﷺ-pun hanya mempunyai selembar kain kasar ( terpal ) sebagai alas tidur, 

Beliau ﷺ akan melipat kain itu menjadi empat lipatan sebagai bantal tidur jika musim panas tiba dan Beliau ﷺ akan menggelar kain tersebut serta di sisakan sedikit buat bantal untuk tidur jika musim dingin tiba. 

.

Aku pernah mengganti alas tidur Rasulullah ﷺ dengan kain yang halus untuk tidur, esok harinya aku di tegur Beliau ﷺ : ” Wahai Hafsah Istriku, janganlah kau lakukan lagi mengganti alas tidurku seperti kemarin, hal itu hanya akan melalaikan orang untuk bangun tengah malam untuk melaksanakan sholat malam bermunajat pada ALLAH ﷻ”, aku-pun tidak berani lagi lakukan hal itu lagi sampai Beliau ﷺ wafat”. 

.

Teruskan ceritamu ya Hafsah, pinta Umar رضي الله عنه dengan penuh perhatian.“Rasulullah ﷺ setiap hari hanya makan roti dari tepung yang amat kasar di campur dengan garam jika pas ada dan di celupkan minyak, Padahal Beliau ﷺ punya hak dari baitul Mall, tapi Beliau ﷺ tidak pernah mengambilnya dan mempergunakan-nya, semuanya di bagikan pada fakir miskin” tutur Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا selanjutnya. 

“Aku pernah pagi-pagi menyapu remukan roti di kamar, oleh Rasulullah ﷺ remukan roti tersebut 

di kumpulkan dan di makan dengan lahap-nya, bahkan Beliau ﷺ berniat untuk membagikan 

pada orang lain” begitu tutur Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا menutup ceritanya. 

.

Kata Umar رضي الله عنه, 

Wahai Hafsah sekarang dengarlah olehmu, jika ada tiga sahabat yang akan mengadakan 

suatu perjalanan dengan tujuan yang sama dan jalan yang harus di tempuh itu harus sama, 

mana mungkin jika ada salah satu sahabat itu menempuh jalan yang lain akan bisa bertemu

pada satu tujuan, Rasulullah ﷺ telah sampai pada tujuan itu, Abu Bakar رضي الله عنه Insya Allah juga telah sampai pada tujuan itu dan sekarang telah berkumpul kembali dengan Rasulullah ﷺ karena Abu Bakar رضي الله عنه menempuh jalan yang sama dengan yang dulu di tempuh oleh Rasulullah ﷺ . Sekarang diriku masih dalam perjalanan belum sampai tujuan, apakah mungkin aku akan menempuh jalur lain sehingga mengakibatkan aku tidak akan sampai tujuan dan berkumpul dengan Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه ? 

.

Tidak, aku sekali-kali TIDAK akan menerima tawaran itu, karena hal itu tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه 

dan akupun tidak akan menggunakan hak-ku dari baitul mall untuk kepentingan diriku, semuanya telah aku serahkan untuk kepentingan fakir miskin.

.

Sumber: 

Disarikan dari sebuah kisah di Tarikh At-Thabari jilid I

Tidak ada komentar: