Jumat, 15 Januari 2016

JANGAN BINGUNG



Seorang yg bijak sewaktu ditanya Apakah yang Paling Membingungkan di Dunia ini ?

Beliau menjawab : "Manusia",

Karena dia "Mengorbankan Kesehatannya" hanya "Demi uang"; Lalu dia "Mengorbankan Uang"nya demi Kesehatan".

Lalu dia "Sangat Khawatir" dengan "Masa Depannya",

sampai’ dia "Tidak Menikmati Masa Kini";

akhirnya dia "Tidak Hidup di Masa Depan atau pun di Masa Kini";

dia "Hidup Seakan-akan Tidak Akan Mati",

lalu dia "Mati" tanpa "Benar2 Menikmati" apa itu "Hidup".

sahabat.. 
bersyukurlah apa yang selama ini kita dapati dan kita nikmati. Karena kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi hari esok.. 

~» Ketika lahir dua tangan kita kosong..  ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong..

~» Waktu datang dan waktu pergi kita tidak membawa apa²..

~» Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan..

~» Jangan minder karena miskin dan hina..

~» Bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita hanyalah pinjaman..

~» TETAPLAH RENDAH HATI seberapapun tinggi kedudukan kita..

~» TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita.. 

~» Karena kita hadir tidak membawa apa2 dan kembali juga tidak membawa apa2...

~» Hanya pahala kebajikan atau dosa kejahatan yang dapat kita bawa.

~»Datang ditemani oleh Tangis.. Pergi juga ditemani oleh Tangis..

~» Maka dari itu TETAPLAH BERSYUKUR, dalam segala keadaan apa pun, dan HIDUPLAH disaat yg benar-benar ada dan nyata utk kita, yaitu SAAT INI, bukan dari bayang2 MASA LALU maupun mencemaskan MASA DATANG yg blm lagi tiba..

“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.

Senin, 11 Januari 2016

Sepuluh Kriteria Aliran Sesat

MUI pernah menetapkan sepuluh kriteria sebuah aliran keagamaan dianggap menyimpang pada rapat kerja nasional (Rakernas) 2007. Bila salah satunya dilanggar, bisa dikatakan aliran itu menyimpang. 
1. Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam.
2. Meyakini dan mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i .
3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Alquran.
4. Mengingkari kebenaran Alquran.
5. Menafsirkan Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7. Menghina, melecehkan, atau merendahkan nabi dan rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai utusan terakhir.
9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan secara syar'i.
10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

Sementara, RI sudah menerapkan dasar hukum penodaan agama lewat Undang-undang  No 1/PNPS/ Tahun 1965 tentang Pencegahan dan atau Penodaan Agama. Beleid tersebut berisi yakni:
Pasal 1
Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang  menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.
Pasal 2
(1) Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri.
(2) Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakan organisasi atau aliran tersebut sebagai organisasi/aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri.
Pasal 3
Apabila setelah dilakukan tindakan oleh Menteri Agama bersama-sama menteri/Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri atau oleh Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan dalam pasal 2 terhadap orang, organisasi atau aliran kepercayaan, mereka masih terus melanggar ketentuan dalam pasal 1, maka orang, penganut, anggota dan/atau anggota pengurus organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.
Pasal 4
Pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sebagai berikut:
"Pasal 156a: Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan ketuhanan Yang Maha Esa."
Sumber : Pusat Data Republika

Kamis, 07 Januari 2016

KISAH : Sahabat Khalid bin walid



Kisah teladan Jendral Khalid bin walid,
Seorang Jendral yang ditakuti lawan dicintai kawan, Namanya harum kemana-mana, Beliau datang kesuatu tempat disambut meriah.

Suatu ketika Jendral Khalid bin Walid, Sedang berada digaris depan medan peperangan, Tiba-tiba datang surat perintah dari Khalifah Umar bin Khattab, Yang menyatakan sang Jendral dipecat, Dan segera menghadap Khalifah.

Menerima surat pemecatan tersebut, Khalid bin Walid tidak bisa tidur,
Masalahnya bukan apa-apa karena merasa tidak bersalah.Tapi karena beliau prajurit yang baik dan taat pada atasan, Turut perintah serahkan jabatan pada pengganti, Langsung menghadap Umar bin Khattab.

Assalaamualaiku m ya Amirul Mukminin sapa Khalid bin walid, Waalaikumsalaam , silakan duduk jawab Umar bin Khattab, Saya menerima surat pemecatan, apa benar saya dipecat?
Umar menjawab “Ya”.
Kalau soal dipecat itu hak Anda. Karena Anda atasan, saya bawahan.
Tapi boleh saya tahu apa kesalahan saya sampai dipecat?
Umar menjawab bahwa Khalid tidak punya kesalahan, 
Tapi dipecat? Apa kurang baik saya jadi Jendral?
Umar bin Khattab menjawab, Bahwa di jaman ini Anda Jendral yang terbaik, 
Tapi dipecat? Boleh saya tanya apa alasan Anda memecat saya, 
Dengan santai Umar bin Khattab menjelaskan, Khalid, Anda itu Jendral yang baik dan Panglima yang baik, Setiap hari saya dengar masyarakat dan prajurit, Selalu memuji-muji Anda tidak ada yang menjelekkan. Catat Khalid, Anda manusia biasa, Terlalu banyak orang yang memuji,
Bukan mustahil dalam hatimu akan timbul rasa sombong, Sedangkan dalam ajaran Islam “Innahu laa yuhibbul mustakbiriin, ALLAH tidak menyukai orang yang sombong.
Seberat debu rasa sombong dalam hati, Neraka jahannam yang menanti,
Karena itu maafkan aku wahai saudaraku, Untuk menjaga agar engkau tidak terjerumus ke neraka jahannam, 

Mendengar jawaban yang demikian, Jendral Khalid berdiri dan memeluk Umar bin Khattab, Sambil menangis dan berkata, Terima kasih wahai Umar engkau saudaraku. Allahu Akbar..!!!

Itu jiwa Islam. Dan yang paling hebat,
Setelah dipecat beliau tidak tersinggung, Malah beliau kembali ke medan perang bertempur lagi, Bukan sebagai panglima tapi sebagai prajurit biasa.

Bayangkan mantan Jendral berperang di bawah komando sersan.
Tetapi ada yang bertanya, Yaa Khalid, Anda sudah dipecat,
Tapi masih mau berperang sebagai prajurit pula.

Apa jawaban sang mantan Jendral?
Saya berperang bukan karena pangkat dan jabatan, Saya berperang bukan karena Khalifah, Saya berperang semata-mata karena ALLAH, Mencari keridhaan ALLAH.

Aqidah merupakan pondasi penting dalam menjalani kehidupan.
Dimanapun kita berada, Yang kita lakukan semestinya hanya berorientasi pada ALLAH.
Baik berorganisasi, bekerja, pejabat pemerintah dan lain-lain.
Konkretnya pada kisah Khalid bin Walid meski dipecat, Namun tetap mengabdi dengan niat lurus mencari Ridha ALLAH.
Seperti itulah sikap hidup seorang Muslim.
Perlu kita ingat dengan istilah 3 A,
ALLAH Dulu,
ALLAH Lagi dan
ALLAH Terus.
Firman ALLAH Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan TUHAN-mu berfirman: "Berdoalah kepada-KU, niscaya akan KU perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-KU akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"
(QS. Ghafir: 60).

Wallahu a’lam…

Rabu, 06 Januari 2016

Bila Usiaku 40 tahun lebih..





Allah Ta'ala berfirman :

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa : "Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim" (QS. Al-Ahqaf : 15).

Bila usia 40 tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya...

Bila usia 40 tahun, maka manusia hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan, semakin memperbanyak bersyukur...

Bila usia 40 tahun, maka meningkatnya minat seseorang terhadap agama, sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Dimana banyak yang akhirnya menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada minatnya terhadap agama, maka ini pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia...

Bila usia 40 tahun, maka tidak lagi banyak memikirkan "masa depan" keduniaan, mengejar karir dan kekayaan finansial. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat. Bahkan tak hanya memikirkan dirinya semata, tapi juga nasib anak istrinya, seperti ujung doa indah ayat di atas "...dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku..."

Bila usia 40 tahun, maka akan sulit dirubahnya kebiasaan pada usia-usia sesudahnya. Jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, mungkin meninggalkan shalat, berzina dll, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut...

Bila usia 40 tahun, maka perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa dari umur yang ada, sebelum ruh sampai di tenggorokan. Ingatlah menyesal kemudian tiada guna...

Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu berkata :

"Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka"

Masyaa Allah
Na'udzu mindzalik,

Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab :

"Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah"

Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata :

"Kaum salaf, apabila diantara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan sholat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal.

Sehelai Rambutmu Lebih Mulia Dari Jubah Ulama




Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.
“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.

Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”
Imam Ahmad rahimahullah menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.
Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.
“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.

Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual?
Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu? Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad rahimahullah terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.

Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad rahimahullah bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”
Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”
Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. Basyar Al-Hafi rahimahullah adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yg tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.
Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.
Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…”
Kemudian Imam Ahmad rahimahullah melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”.
Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, dari Rasulullah, beliau bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ “Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.”
(Shahih Lighairihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan Al-Baihaqi, dan sebagian sanadnya hasan. Shahih At-Targhib 2/150 no. 1730)

Senin, 04 Januari 2016

FILOSOFI KURUNG BATANG (KERANDA JENAZAH)


Ketika panggilan kematian telah datang, engkau lah yang kami cari..
Ketika engkau tak ada… kemana kami harus mencari...
Berlomba-lomba umat bersedekah mengupayakan agar engkau ada..
Tetapi ketika engkau ada… kemanakah umat yang bersedekah  itu..
Tak satupun diantara mereka ingin segera memanfaatkan akan apa yang mereka sedekahkan…
Itulah engkau wahai kurung batang (keranda jenazah)

Ketika panggilan adzan telah berkumandang, apa yang engkau cari...
Ketika ditempatmu tidak ada apa yang kau cari untuk memenuhi panggilan adzan..
Berlomba-lombalah kamu untuk mengupayakan membuat apa yang kau cari...
Manfaatkanlah apa yang telah kau bangun atas jerih payah sodakohmu..
Itulah engkau wahai masjid...

Jangan jadikan masjid-masjid kita, musola-musola kita seperti kurung batang...
berlomba-lomba kita bersedekah/membangun masjid untuk memenuhi panggilan TUHAN tetapi...
kemanakah mereka yang bersedekah itu..?
apakah mereka tidak ingin memanfaatkan apa yang telah mereka sedekahkan..?

wahai umat jangan kau jadikan masjidmu seperti kurung batang..
kau bangun tetapi kau tinggalkan...