Jumat, 26 November 2021

Kisah : sahabat Umar bin Khatab

 AKHLAK YANG MULIA


"Akhlak yang mulia adalah, merendahkan diri kamu ketika memiliki kedudukan yang tinggi, menampakkan kecukupan ketika kamu berada di dalam kekurangan dan juga hidup sederhana ketika kamu memiliki kekayaan"


GAJI KHALIFAH UMAR BIN KHATAB رضي الله عنه 

Suatu hari Sayyidina Ali Bin Abu Tholib رضي الله عنه, Talhah رضي الله عنه dan salah satu Sahabat lain-nya mendatangi Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, putri Sayyidina Umar Bin Khatab رضي الله عنه yang juga salah satu Istri Rasulullah ﷺ. Maksud kedatangan ke tiga sahabat Rasulullah ﷺ itu adalah untuk mengusulkan agar gaji Umar رضي الله عنه sebagai Khalifah (Presiden) di naikkan, karena gaji yang sekarang di terima oleh Umar رضي الله عنه di pandang terlalu kecil, untuk menyampaikan langsung pada Umar رضي الله عنه ke tiga sahabat ini merasa takut jika Umar رضي الله عنه nanti malah marah, maka ketiga sahabat Nabi ﷺ tersebut menemui Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا dan meminta tolong agar Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-lah yang menyampaikan usulan tersebut kepada Umar رضي الله عنه Sang Khalifah waktu itu. 


Salah satu alasan usulan untuk menaikkan gaji Khalifah. Ini lantaran melihat kondisi setiap kali menerima tamu negara, Umar رضي الله عنه tidak pernah berpakaian yang mewah. 


Benar saja, ketika Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا menyampaikan usul ketiga sahabat Rasulullsh ﷺ tersebut, Wajah Umar Bin Khatab رضي الله عنه langsung merah padam menahan marah, 

Sayyidina Umar رضي الله عنه pun berkata :

“Siapa ya Hafsah yang berani-beraninya mengusulkan gaji-ku sebagai Khalifah supaya di tambah, biar orang itu aku tempeleng ?” tanya Umar رضي الله عنه dengan nada keras. 


Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-pun menjawab “Aku akan mengatakan-nya siapa orang itu, tapi aku ingin tahu lebih dulu bagaimana pendapat engkau sebenarnya dengan usulan itu”, jawab Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا dengan tenang. 

.

“Wahai Hafsah, 

Engkau sebagai istri Rasulullah ﷺ ceritakan padaku, bagaimana Rasulullah ﷺ dulu sewaktu masih hidup dan menjabat sebagai Khalifah”, kata Umar رضي الله عنه selanjutnya. 

.

Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -pun menerangkan dengan senang hati, Selama aku mendampingi Rasulullah ﷺ sebagai salah satu istri, Beliau ﷺ sebagai seorang Khalifah (Presiden), Rasulullah ﷺ hanya mempunyai dua stel baju, berwarna biru dan merah, Rasulullah ﷺ-pun hanya mempunyai selembar kain kasar ( terpal ) sebagai alas tidur, 

Beliau ﷺ akan melipat kain itu menjadi empat lipatan sebagai bantal tidur jika musim panas tiba dan Beliau ﷺ akan menggelar kain tersebut serta di sisakan sedikit buat bantal untuk tidur jika musim dingin tiba. 

.

Aku pernah mengganti alas tidur Rasulullah ﷺ dengan kain yang halus untuk tidur, esok harinya aku di tegur Beliau ﷺ : ” Wahai Hafsah Istriku, janganlah kau lakukan lagi mengganti alas tidurku seperti kemarin, hal itu hanya akan melalaikan orang untuk bangun tengah malam untuk melaksanakan sholat malam bermunajat pada ALLAH ﷻ”, aku-pun tidak berani lagi lakukan hal itu lagi sampai Beliau ﷺ wafat”. 

.

Teruskan ceritamu ya Hafsah, pinta Umar رضي الله عنه dengan penuh perhatian.“Rasulullah ﷺ setiap hari hanya makan roti dari tepung yang amat kasar di campur dengan garam jika pas ada dan di celupkan minyak, Padahal Beliau ﷺ punya hak dari baitul Mall, tapi Beliau ﷺ tidak pernah mengambilnya dan mempergunakan-nya, semuanya di bagikan pada fakir miskin” tutur Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا selanjutnya. 

“Aku pernah pagi-pagi menyapu remukan roti di kamar, oleh Rasulullah ﷺ remukan roti tersebut 

di kumpulkan dan di makan dengan lahap-nya, bahkan Beliau ﷺ berniat untuk membagikan 

pada orang lain” begitu tutur Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا menutup ceritanya. 

.

Kata Umar رضي الله عنه, 

Wahai Hafsah sekarang dengarlah olehmu, jika ada tiga sahabat yang akan mengadakan 

suatu perjalanan dengan tujuan yang sama dan jalan yang harus di tempuh itu harus sama, 

mana mungkin jika ada salah satu sahabat itu menempuh jalan yang lain akan bisa bertemu

pada satu tujuan, Rasulullah ﷺ telah sampai pada tujuan itu, Abu Bakar رضي الله عنه Insya Allah juga telah sampai pada tujuan itu dan sekarang telah berkumpul kembali dengan Rasulullah ﷺ karena Abu Bakar رضي الله عنه menempuh jalan yang sama dengan yang dulu di tempuh oleh Rasulullah ﷺ . Sekarang diriku masih dalam perjalanan belum sampai tujuan, apakah mungkin aku akan menempuh jalur lain sehingga mengakibatkan aku tidak akan sampai tujuan dan berkumpul dengan Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه ? 

.

Tidak, aku sekali-kali TIDAK akan menerima tawaran itu, karena hal itu tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه 

dan akupun tidak akan menggunakan hak-ku dari baitul mall untuk kepentingan diriku, semuanya telah aku serahkan untuk kepentingan fakir miskin.

.

Sumber: 

Disarikan dari sebuah kisah di Tarikh At-Thabari jilid I

Kamis, 25 November 2021

ISLAMISASI atau ARABISASI

 *ISLAM atau Arab?*


Tulisan ini untuk mengajak umat muslim Indonesia lebih kritis dalam memahami tentang "ISLAM dan ARAB' dengan kebudayaannya, sehingga kita tidak terperangkap dalam kesesatan pemikiran yang sempit tentang


                   *I S L A M*


1. Menjadi Muslim berbeda dengan menjadi orang Arab, maka "ISLAMISASI" jelas-jelas berbeda dengan "ARABISASI".


2. Islam itu bukan ajaran Arab, walaupun :

» Al-Qur'an berbahasa Arab, 

» dan Nabi Muhammad dari kaum Arab. 

Islam itu 'Jalan Hidup', 'Prinsip Hidup'  bukan keyakinan orang Arab.


3. Faktanya...

» Turunnya ajaran Islam justru 'ditentang' oleh kaum Arab di masa itu karena Islam datang mengubah 

» Tradisi, 

» Keyakinan, 

» Kebiasaan jahiliyah orang-orang Arab.


4. Islam datang kepada kaum Arab membawa 'Tatanan yang Baru' sama sekali, baik dalam hal 

» Tradisi, 

» Kebiasaan, 

» Akhlak, 

» Hukum, 

» dan juga Cara Hidup.


5. Perlu dicatat... !

Karena Al-Qur'an dan Nabi Muhammad berbahasa Arab, maka 'Bahasa Arab' juga tidak bisa dipisahkan dari 'Agama Islam' karena Kitab Sucinya adalah berbahasa Arab.


6. Juga sebuah kewajaran bahwa Agama Islam awalnya disebarkan oleh orang Arab karena memang agama Allah yang pamungkas ini berasal dari sana.


7. Mengenai tokoh-tokoh besar Agama Islam ini adalah orang Arab itu pun wajar saja, karena merekalah kaum awal yang beragama Islam.


8. Jadi bisa dikatakan :

»  Arab belum tentu Islam, 

» dan Islam tidak harus Arab, 

» yang jelas Islam itu pasti berdasarkan 


                 "Al-Qur'an 

                       dan 

                As-Sunnah"


9. Juga salah besar, bila dikatakan bhw "Islamisasi sama dengan Arabisasi", lantas menolak Islamisasi dengan dalih, 


"Ini Indonesia, bukan Arab" 


10. Apa bedanya? 

Jelas beda sekali, menjadi Arab atau bukan Arab itu adalah  'TAKDIR', sedangkan mengambil Islam atau mengabaikannya, itu adalah 'PILIHAN'


11. Islam itu ya Islam!!! 

Tidak perlu ada pandangan : 


   "Disana Islam Arab, 

disini Islam Nusantara", 


ini pandangan yang mungkin niatnya baik tetapi justru berpotensi

"MEMECAH BELAH ISLAM". Sebaiknya dihindari.


12. Islam itu ya Islam!!!

Panduannya Kitabullah dan Sunnah, Khulafaur Rasyidin dan juga Tabiin, Tabiut Tabiin, Ulama Salaf, apapun Madzhabnya.


13. Adapun menjadi Muslim, tidak berarti meninggalkan budaya lokal. 

» Bila bertentangan dengan Islam tinggalkan saja...

» dan bila tidak silahkan dilanjutkan.


14. Apa standar meninggalkan dan melanjutkan budaya setelah jadi Muslim? 

Ya AQIDAH, bila bertentangan dengan Aqidah, ya mutlak harus ditinggalkan.


15. Misalnya seperti budaya 

» Membuka Aurat, 

» Menyembah pohon, 

ya harus tinggalkan. 

Beda dengan 

» Arsitektur, 

» Aneka Makanan (halal), 

ya boleh dilanjutkan.


16. Islam masuk ke Cina, arsitektur masjid mirip pagoda, boleh saja tetapi sembahyang leluhur dengan hio, ya ditinggalkan, itu contohnya.


17. Islam masuk ke Indonesia, maka batik tetap lestari, bahkan menyerap nilai Islam, boleh saja tetapi menyembah batu dan patung harus dihapuskan.


18. Dalam Islam mudah saja, selama tidak dilarang syariat, amalkan saja. Namun bila sudah ada larangan syariat, maka : 


        *Islam yang harus*

            *diutamakan*


19. Maka di dalam Islam, semua produk (fisik atau non-fisik) selain Aqidah, boleh saja diadopsi termasuk teknologi juga karena termasuk "produk non-aqidah".


20. Kita mencukupkan diri pada Kitabullah dan Sunnah, itu yang terbaik.


21. Kesimpulannya...

» Belajarlah Islam, 

» Kaji terus Islam, jangan berhenti, 

» Taati Allah dan Rasulullah semata, 

» karena kita akan kembali kepada-Nya.


22. Kesimpulan lain, jadi Muslim kamu 

» gak harus pakai sorban, 

» gak harus berjubah, 

» yang jelas Pikiranmu, Lisanmu, Amalanmu, 


Harus berpedoman pada Quran-Sunnah


23. Jangan sampai terbalik, 

» kamu pakai sorban, 

» pakai sarung, 

» mengenakan peci, jubah, 

tetapi pola pikirmu dan referensimu liberal, jauh dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.


24. Lebih bagus kamu memakai 

» Batik, 

» Kemeja, 

» Kaos, 

» Celana, 

lalu setiap kamu mikir, lisan, amal, semua berdalil : 


                "Kitabullah 

                         dan 

                    Sunnah". 


25. Lebih bagus lagi, kamu memakai peci, memakai sarung, mengenakan sorban, berjubah dan semua pikiran, lisan, amalmu,  azasnya Kitabullah dan Sunnah, itu.


Jadi di dalam Agama Islam


*Aqidah dan Akhlak-lah* yang harus diutamakan... bukan simbol..



Semoga menggugah qolbu kita...

Jumat, 23 Juli 2021

Doa memasukan mayit kedalam kubur

Aku masukkan mayit ini ke lobang landak dengan Nama Allah dan atas ajaran agama Rasululah SAW. 

Ya Allah, keluarga dan kerabatnya telah menyerahkan mayit ini kepadaMu. dia telah bepisah dengan orang orang yang dicintainya, dia telah keluar dari kesenangan dan keluasan dunia menuju kegelapan dan kesempitan kubur.  

Dia telah datang kepadaMu dan Engkau sebaik baiknya Tuhan yang di hampiri mayit ini. Kami Yakin seyakin yakinnya, jika Engkau akan menyiksa mayit ini, maka tentu karena dosa yang dilakukannya, namun, jika Engkau memafkannya, maka Memang Engkaulah Tuhan Yang Maha Pemaaf dan Pengampun. 

Ya Allah, terimalah segala amal baiknya, ampunilah segala kesalahannya,  lindungilah dia dari adzab kubur, jagalah dia dari siksaanMu dengan semata mata  rahmat dan kasih sayangMu  Ya Arhamarrohimiin. Aamiin

Kamis, 13 Mei 2021

KISAH KELUARGA RASULULLAH SAW DI HARI RAYA 'IDUL FITRI

 KISAH KELUARGA RASULULLAH SAW DI HARI RAYA 'IDUL FITRI



MATA RASULULLAH SAW PUN BERLINANG.⁣


⁣Pada saat malam Takbiran, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan Kurma. Beliau bersama istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, Sayyidina Ali menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung Kurma. Terihat, Sayyidina Ali memanggul gandum, sementara istrinya Sayyidah Fatimah menuntun Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni.⁣


Esok harinya tiba Shalat ‘Idul Fitri. Mereka sekeluarga khusyuk mengikuti Shalat jama’ah dan mendengarkan khutbah. Selepas khutbah ‘Id selesai, keluarga Rasulullah Saw itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.⁣

⁣ .

Sahabat beliau, Ibnu Rafi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga putri Rasulullah Saw. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengang Ibnu Rafi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah itu.⁣


Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein yang masih balita, dalam ‘Idul Fitri makanannya adalah gandum tanpa mentega, gandum basi yang baunya tercium oleh sahabat Nabi itu.⁣


Seketika itu Ibnu Rafi’i berucap Istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rafi’i berlinang butiran bening, perlahan butiran itu menetes di pipinya.⁣

⁣ Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Saw. ⁣


Sesampainya tiba di depan Rasulullah, “Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rafi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah.⁣


“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”⁣

“Kenapa keluargaku?”⁣

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”⁣


Rasulullah Saw pun bergegas menuju rumah Sayyidah Fatimah. Tiba di teras rumah, tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah dan kedua putranya.⁣

⁣ Mata Rasulullah pun berlinang. Beliau menangis melihat keluarga putri tercinta dan dua cucunya yang hanya makan gandum basi dihari Raya Idul Fitri...


Di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rasulullah Saw penuh tawa bahagia dengan hanya makan gandum yang baunya tercium tak sedap.


“Ya Allah, Allahumma Isyhad...Ya Allah, Allahumma Isyhad... (Ya Allah saksikanlah, saksikanlah) Di hari ‘Idul Fitri keluargaku makanannya adalah gandum yang basi. Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin. 


Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi, asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat. Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” bibir Rasulullah berbisik lembut..


Sayyidah Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, sang ayah sedang berdiri tegak. “Duhai ayahnda, ada apa gerangan ayah menangis?”

Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. 


Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar,

“Surga untukmu, Nak...Surga untukmu.” 


Demikianlah, menurut Ibnu Rafi’i, keluarga Rasulullah Saw pada hari ‘Idul Fitri menyantap makanan yang basi dan bau.


Ibnu Rafi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah Saw agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri dan aku pun simpan kisah itu dalam hatiku.


Namun, selepas Rasulullah Saw wafat, aku takut dituduh menyembunyikan Hadits, maka aku ceritakan hal ini agar menjadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.”


(Musnad Imam Ahmad, jilid 2, hlm. 232).


Mudah mudahan setelah membaca kisah ini, kerinduan dan kecintaan kita KPD Rasulullah Saw dan Keluarganya bertambah sehingga kelak kita dikumpulkan bersama beliau

Aamiin Yaarabbal 'Alamiin


اللّٰهمّ صلّى عل سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد ❤️

🥀

Minggu, 02 Mei 2021

Semua Agama Benar, menuju Tuhan yang sama, hanya jalannya yang berbeda-beda


Konten Islam 



CACAT LOGIKA

Pernyataan:
"Semua Agama Benar, menuju Tuhan yang sama, hanya jalannya yang berbeda-beda".

Merupakan sesat pikir dan bias logika prematur karena;

1.Membenarkan semua agama sama dengan meyakini bahwa orang buta dan orang melihat sama saja, orang tuli dan orang mendengar sama saja, orang baik dan buruk sama saja. Belum dapat poinnya? lanjut...

Agama yang mengajarkan menyembah sapi dan berhala (Makhluk) dianggap sama saja dengan agama yang mengajarkan menyembah pada Tuhan yang esa(Pencipta Makhluk), agama yang mengajarkan banyak tuhan dianggap sama saja dengan agama yang mengajarkan ibadah kepada Satu Tuhan.
Satu, tidak sama dengan Tiga, jika sama maka ijazahmu dapat nemu dari kubangan sampah kaum liberal.

2. Tuhan tidak menurunkan 5 Agama yang berbeda lalu mengatakan bahwa Agama yang turun terakhir inilah yang benar.

Seorang ayah tidak mengatakan kepada 5 orang anaknya;
Nak kamu jadi Yahudi, kepada anak ke 2 dikatakan kamu jadi Majusi, kepada anak ke 3 dikatakan kamu jadi Nashrani, kepada anak ke 4 dikatakan kamu jadi hindu dan kepada anak ke 5 dikatakan kamu jadi Islam, lalu kemudian si Ayah menegaskan pada anak yang ke 5; Tapi hanya kamu nak yang akan ayah akui sebagai anak dan akan masuk surga,.

Apakah logika kita bisa menerima ketidak adilan dan kekonyolan perilaku si ayah yang demikian terhadap anak²nya?

هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا

"Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini." [QS 22:77]

3. Pernyataan semua agama benar sama sekali tidak diamini dan divalidasi oleh masing-masing pemeluk agama, setiap pemeluk agama hanya mengamini dan memvalidasi bahwa agamanya saja yang benar, maka dengan pakem itu mereka membangun misi menyebarkan agamanya dan mengenalkan konsep Iman dan Kufur.

4. Membenarkan semua agama adalah sikap sok Tahu bahwa semua agama mengajarkan teologi(Aqidah) yang sama.

Sama seperti seorang Guru yang mengajarkan 1 + 1 = 2 
tetapi juga membenarkan 1 + 3 = 2 
dan 2 + 2 = 2.
Semua mendapat Check List Benar dari si Guru.
Guru Celaka tentu Saja..

5. Merusak Rumus dan Formula

Menyatakan semua agama benar sama saja meyakini Gula, Garam, Merica dan Soda Kue semua rasanya Manis.

Ibu Anda yang sedang memasak Bubur Kacang hijau memintamu ambilkan Gula di Toples, lalu kamu bawakan Merica atau Soda Kue, kemudian kamu katakan rasanya sama saja mak..

Mungkin Ibumu segera memeriksakan kesehatan jiwamu atau Sutilnya segera melayang mendarat tak mulus di pahamu.


(By Aly Raihan El-Mishry)

Kunjungi website

Senin, 26 April 2021

DZIKIR



Makna dzikir adalah menyebut (lisan) dan mengingat (hati).

Jika hanya disebut tetapi tidak mengingat maka bukan bermakna berdzikir demikian sebaliknya, mengingat tapi tidak menyebut maka dzikirnya tidak sempurna

Disebut berdzikir jika memenuhi 3 syarat berikut ini :
  1. di ucapkan dengan ucapan (fil lisan)
  2. di ingat didalam hati (fi qolb)
  3. di agungkan dengan sikap mengagungkan Allah
 
 https://www.youtube.com/watch?v=EAY_QC62vF

Doa agar Terlindung dari Sifat Kufur dan Munafik


Islampos

MEMOHON perlindungan kepada Allah dari kekufuran dan kemunafikan merupakan bukti adanya perasaan takut terhadap penyebab hilangnya iman. Ini merupakan bukti bahwa seseorang sangat perhatian terhadap imannya.

Allah mencontohkan salah satu doa Nabi Ibrahim,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala. (QS. Ibrahim: 35)

Ada seorang ulama bernama Ibrahim at-Taimi, ketika membaca ayat ini beliau berkomentar,

ومن يأمن البلاء بعد إبراهيم؟

“Siapa yang merasa aman dari bala’ setelah Ibrahim?” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Maksud beliau, Ibrahim sangat menghargai imannya dan beliau sangat ketakutan dengan sebab kekufuran, hingga memohon perlindungan kepada Allah dari kesyirikan. Siapakah kita dibandingkan beliau? Padahal kita tidak pernah memohon perlindungan seperti yang diucapkan Ibrahim.

Ada beberapa doa yang diajarkan dalam al-Quran dan sunah, yang isinya permohonan perlindungan dari kekafiran dan kemunafikan,

Pertama, Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu was sallam,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ – رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala. Ya Allah, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak orang. (QS. Ibrahim: 35 – 36).

Kedua, memohon hidayah dan taufiq

Hakekat memohon hidayah, berarti memohon untuk diberikan jalan istiqamah di atas kebenaran dan dilindugi dari setiap kekufuran dan kemunafikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, terjaga kehormatan, dan kekayaan. (HR. Ahmad 3950 & Muslim 7079).

Ketiga, doa dari kekufuran dan kemunafikan

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum’ah, dan riya’.”

Doa ini diriwayatkan oleh al-Hakim (1944) dan dishahihkan al-Albani.

Keempat, perlindungan dari syirik, yang disadari maupun yang tidak disadari

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku menyekutukan-Mu sementara aku menyadarinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu untuk yang tidak aku sadari.

Doa ini dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan tentang bahaya syirik,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ

Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh syirik itu lebih samar dibandingkan jejak kaki semut. Maukah kutunjukkan kepada kalian satu doa, jika kalian mengucapkannya, maka syirik akan menjauhimu yang seidkit maupun yang banyak.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa di atas. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 716 dan dishahihkan al-Albani).

Kelima, doa sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,

Beliau rajin membaca doa berikut,

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran… ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur… laa ilaaha illaa anta…

Sahabat Abu Bakrah membaca ini diulang 3 kali setiap pagi dan sore. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau mengatakan,

إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِنَّ ، فَأُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ

Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengan doa ini, dan aku ingin meniru sunah beliau. (HR. Abu Daud 5092, Nasai 5482 dan dihasankan al-Albani).

Semoga doa-doa di atas bisa kita rutinkan.

Dan yang tidak kalah penting adalah selalu menghadirkan perasaan butuh terhadap hidayah dan bimbingan Allah, karena Allah melihat hati kita. Jangan sampai muncul perasaan, saya tidak butuh hidayah karena tidak mungkin tersesat. Perasaan semacam ini berbahaya, karena dia merasa sombong dengan kondisinya. Wallahu a’lam. []

SUMBER: KONSULTASI SYARIAH