Selasa, 04 Januari 2022

TIDAK ADA SUAMI YG JUJUR



 TIDAK ADA SUAMI YG JUJUR 🥺🥺🥺

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering dicaci maki bosnya.?😔😔

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering mendapat hinaan di luar sana.?😫😫

Taukah dirimu mungkin suamimu bahkan baru saja mempertaruhkan nyawanya demi dirimu dan anak" mu.😇😇

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering menahan lapar demi bisa pulang membawa uang.🥲🥲


Sebelum engkau cemberut padanya,,,

Hitung lah dulu telah berapa juta tetes keringat engkau peras dari tubuhnya.🥺🥺

Sebelum engkau marah padanya,,,

Tataplah lekat-lekat matanya, mungkin tanpa kamu sadari mata itu telah banyak mengeluarkan air mata demi melihat dirimu tersenyum 😊 😞 


Ketahuilah

Bila sampai hari ini dia belum bisa memenuhi segala keinginanmu, itu hanya karena faktor keadaan.

Tak seorang pun kepala keluarga yg tidak ingin melihat keluarganya bahagia.

Sebelum engkau marah kepadanya, lihatlah dan renungkan lah apa yg telah dilakukan oleh seorang suami.

Betapa suamimu sudah kerja keras banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebagian ayah tak pandai menceritakan kepedihannya pada anak istrinya, ia telan sendiri. 

Ia tak mau anak istrinya tahu betapa susahnya ia berjuang.. Ia hanya ingin anak istrinya bangga terhadap dirinya, terhadap pekerjaannya..


Untuk para ayah di mana pun berada. 

Smoga lelahmu menjadi berkah,


 Amiin ya Allah..🤲


Sayang istri 

Senin, 20 Desember 2021

Toleransi antar ummat

 Toleransi Beragama

40 menit yang lalu


TOLERANSI ANTARA UMAT BERAGAMA

Muslim: "Bagaimana natalmu?"

Nasrani: "Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku...?"

Muslim: "Tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya melarangnya."

Nasarani: "Tapi kenapa? Bukankah ucapan selamat natal itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain, mengucapkannya padaku."

Muslim: "Mungkin mereka belum mengetahuinya... kau bisa mengucapkan dua kalimat Syahadat?"

Nasrani: "Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya... Itu akan mengganggu kepercayaan saya..."

Muslim: "Kenapa? Bukankah hanya kata-kata?"

Nasrani: "Ya, sekarang saya mengerti. Terima kasih teman."

***

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

(Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.)

Ucapan selamat NATAL

 Soal Pejabat Muslim Ucapkan Selamat Natal, Begini Kata Ustaz Adi Hidayat


Ustaz Adi Hidayat bicara mengenai polemik ucapan Selamat Natal bagi umat Islam. Setiap Natal selalu timbul pro kontra pembahasan mengenai boleh tidaknya umat Islam mengucapkan Selamat Natal.

Ustaz Adi Hidayat membahas mengenai hukumnya umat Islam mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani. Menurut Ustaz Adi Hidayat, dalam Natal ada ibadah umat Kristiani.

Ustaz Adi Hidayat mengatakan dalam Natal ada perayaan ibadah yaitu datang ke gereja melakukan kebaktian.

“Natal tidak berdiri sendiri. Natal ada nuansa ibadahnya,” kata Adi Hidayat.

Karena Natal adalah ibadah, lanjut Ustaz Adi, maka skema toleransi umat Islam adalah membiarkan umat Kristiani beribadah sesuai dengan keyakinanya masing-masing tanpa mencampurinya sedikitpun baik dengan perkataan, atau susana hati tertentu apalagi perbuatan.

“Seperti ikut-ikutan ke gereja misalnya atau menyimak kebaktian atau mengenakan pakaian-pakaian khusus dipahami ibadah di agama tertentu,” ujar Ustaz Adi Hidayat.

Karena itu Ustaz Adi Hidayat berharap tidak ada pemaksaan oleh pusat perbelanjaan bagi karyawan beragama Islam untuk menggunakan pakaian khas Natal.

Lalu membahas mengenai ucapan Selamat Natal, menurut Ustaz Adi Hidayat di Natal ada unsur ibadah dimana berbeda konsepsi Ketuhanannya dengan Islam, lau ada unsur penyembahan dan peribadahan.

“Kalo kita ucapkan (Selamat Natal) ada pengakuan di situ. Sementara komitmen La ilaha illallah adalah tidak menuhankan kecuali hanya Allah saja. Jadi kalo ada konsepsi bertentangan dengan La ilaha illallah kita mesti tolak,” jelas Adi Hidayat.

Ustaz Adi Hidayat, setiap pemeluk agama itu harus meyakini agamanya yang paling benar. Bentuk toleransinya ujar dia, adalah dengan membiarkan pemeluk agama lain beribadah.


Kunjungi website

Jumat, 03 Desember 2021

Zikir Pembuka ratib




 بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّحِيْمِ

للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

وَ بَعْدُفَاءِنَّا وَ الحَمْدُللهِ قَدْ رَضِينَا بِااللهِ ربًّ وَ بِالاْ ءِسْلاَمِ دِينَا وَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَ رَسُو لاً، وَبِا لْقُرْاَنِ إِمَا مَا، وَ بِا لْكَعْبِةِ قِبْلَةً. وَ بِا لْمُؤْ مِنِيْنَ إِخْوَا نَا وَ تَبَرَأْنَامِنْ كُلِّ دِينٍ يُخَالِفُ دِينَ الاْءِسْلاَمِ وَ أَمَنَّابِكُلِّ كِتَابٍ أَنْزَلَهُاللهُ وَ بِكُلِّ رَسُولٍ أَرْسَلَهُ اللهُ وَ بِمَلاَءِكَةِ اللهِ، وَ بِلْقَدَرِ خَيرِهِ وَ شَرِّ هِ، وَ بِلْيُوْمِ اْلاءَ خِرِ وَ بِكُلِّ مَا جَا ءَ بِهِ مُحَمَّدٍ رسول الله صليعليه و سلم عَنِ اللهِ، عَلَى ذَلِكَ نَحْيَا وَ عَلَيْهِ نَمُوْتُ وَعَلَيهِ نُبْعَثُ إِنْ شَِا ءَ اللهُ مِنَ اْلاَمِنِيْنَ الَّذِينَ لاَخَوْفٌ عَلَيهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ.

Jumat, 26 November 2021

GA USAH BAWA-BAWA AGAMA


Konon ada Sebuah percakapan  diantara 2 org muslim :

Bro: “Bray…”

Bray: “Ape bro?”

Bro: “Jangan bawa-bawa agama deh bray kalo ngomongin capres 2024…”

Bray: “Apanya?”

Bro: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyoblos aja masih aja bawa-bawa agama.”

Bray: “Gitu ya bro?”

Bro: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray.”

Bray: ”Ya udah, tapi tolong kasih tau, ini Islam agama gue mesti ditaro dimana?”

Bro: “Maksudnya?”

Bray: “Iya, tolong kasih tau gue, mesti ditaro mana ini Islam?”

Bro: “Maksudnya gimana bray? Gue gak ngerti.”

Bray: “Iya, kan lo suruh gue jangan bawa-bawa agama kan? Nah gue bingung bro. Kalo gue gak boleh bawa-bawa agama, Islam mesti gue taro mana? Soalnya Islam mengatur dari mulai gue bangun tidur sampai mau tidur lagi. Bangun tidur diatur, masuk kamar mandi diatur, berpakaian diatur, mau makan diatur, keluar rumah diatur, berpergian diatur, bertetangga diatur, berbisnis diatur, bahkan sampai urusan mau indehoy ama bini aja diatur. 

Bahkan lagi bro, sorry banget nih ya bro, urusan cebok aja ada aturannya! Yang lebih heran lagi bro, itu aturan malah sampe ada doanya segala bro. Bayangin, sampai semuanya ada doanya! Lengkap banget! …” ..Apalagi urusan memilih pemimpin bro .  !!! Islam aja sdh larang memilih Pemimpin Kafir .. 

Hening …

Bray: “Makanya dalam semua urusan, akhirnya gue bawa-bawa Islam. Nah, kalau gue sekarang gak boleh bawa-bawa agama, sok atuh kasih tau KAPAN dan DIMANA gue bisa lepasin agama Islam gue?”

Bro: “Errr… Gak gitu-gitu amat kali bray…”

Bray: “Iya gue juga tadinya mikir gitu bro. Gak perlu gitu-gitu amatlah. Tapi lama-lama gw perhatikan justru itulah bedanya Islam. Islam itu ya emang gitu bro. Gak cuma ritual yang diatur, tapi cara hidup. Islam memang hadir untuk mengatur hidup kite sebagai manusia bro. Emang lo gak mau hidup lo jadi lebih bener bro?”

Bro: “Err … mmmh …. Ya mau sih bray…”

Bray: “Nah! Kalo gitu mesti mau dong diatur ama Islam. Kan lo udah syahadat, agamalo islam lah? Jangan cuma lahir, nikah bahkan mati baru lo pake tu Islam, giliran soal2 hidup dan kehidupan yang udah diatur sama Islam, kagak lo pake, muna itu bro..."

Bro: “Ya tapi gak usah jadi fanatik gitulah bray, serem dengernya…”

Bray: “Harusnya gimana bro?”

Bro: “Ya diem-diem ajalah. Masing-masing aja. Kan Allah lebih tau gimana cara gw ber-Islam. Iya kan?”

Bray: “Iya sih….”

Bro: “Nah iya kan?”

Bray: “ Tapi kebayang ya bro?”

Bro: “Kebayang apa bray?”

Bray: “Iya, kalo Islam memang hanya untuk diem-diem aja, untuk masing-masing pribadi aja, bukan untuk dishare ke orang lain, kira-kira bakal sampe gak ya hidayah Islam ke kita sekarang? Kalo dulu Nabi Muhammad ber-Islam sambil diem-diem aja, buat sendirian doang, bakal nyampe gak ya Islam ke kita bro?”

…. Hening lagi ….

Bro: “Bray …”

Bray: “Ya bro?”

Bro: “Gue cabut dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Daaaah…”

Bray: “Loh koq buru-buru bro? Ya udah hati-hati ya bro, Islamnya tetap dibawa...  jangan ditinggal di sini ya.... "


#BawalahIslamKemanaMana

Kisah : sahabat Umar bin Khatab

 AKHLAK YANG MULIA


"Akhlak yang mulia adalah, merendahkan diri kamu ketika memiliki kedudukan yang tinggi, menampakkan kecukupan ketika kamu berada di dalam kekurangan dan juga hidup sederhana ketika kamu memiliki kekayaan"


GAJI KHALIFAH UMAR BIN KHATAB رضي الله عنه 

Suatu hari Sayyidina Ali Bin Abu Tholib رضي الله عنه, Talhah رضي الله عنه dan salah satu Sahabat lain-nya mendatangi Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, putri Sayyidina Umar Bin Khatab رضي الله عنه yang juga salah satu Istri Rasulullah ﷺ. Maksud kedatangan ke tiga sahabat Rasulullah ﷺ itu adalah untuk mengusulkan agar gaji Umar رضي الله عنه sebagai Khalifah (Presiden) di naikkan, karena gaji yang sekarang di terima oleh Umar رضي الله عنه di pandang terlalu kecil, untuk menyampaikan langsung pada Umar رضي الله عنه ke tiga sahabat ini merasa takut jika Umar رضي الله عنه nanti malah marah, maka ketiga sahabat Nabi ﷺ tersebut menemui Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا dan meminta tolong agar Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-lah yang menyampaikan usulan tersebut kepada Umar رضي الله عنه Sang Khalifah waktu itu. 


Salah satu alasan usulan untuk menaikkan gaji Khalifah. Ini lantaran melihat kondisi setiap kali menerima tamu negara, Umar رضي الله عنه tidak pernah berpakaian yang mewah. 


Benar saja, ketika Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا menyampaikan usul ketiga sahabat Rasulullsh ﷺ tersebut, Wajah Umar Bin Khatab رضي الله عنه langsung merah padam menahan marah, 

Sayyidina Umar رضي الله عنه pun berkata :

“Siapa ya Hafsah yang berani-beraninya mengusulkan gaji-ku sebagai Khalifah supaya di tambah, biar orang itu aku tempeleng ?” tanya Umar رضي الله عنه dengan nada keras. 


Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-pun menjawab “Aku akan mengatakan-nya siapa orang itu, tapi aku ingin tahu lebih dulu bagaimana pendapat engkau sebenarnya dengan usulan itu”, jawab Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا dengan tenang. 

.

“Wahai Hafsah, 

Engkau sebagai istri Rasulullah ﷺ ceritakan padaku, bagaimana Rasulullah ﷺ dulu sewaktu masih hidup dan menjabat sebagai Khalifah”, kata Umar رضي الله عنه selanjutnya. 

.

Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -pun menerangkan dengan senang hati, Selama aku mendampingi Rasulullah ﷺ sebagai salah satu istri, Beliau ﷺ sebagai seorang Khalifah (Presiden), Rasulullah ﷺ hanya mempunyai dua stel baju, berwarna biru dan merah, Rasulullah ﷺ-pun hanya mempunyai selembar kain kasar ( terpal ) sebagai alas tidur, 

Beliau ﷺ akan melipat kain itu menjadi empat lipatan sebagai bantal tidur jika musim panas tiba dan Beliau ﷺ akan menggelar kain tersebut serta di sisakan sedikit buat bantal untuk tidur jika musim dingin tiba. 

.

Aku pernah mengganti alas tidur Rasulullah ﷺ dengan kain yang halus untuk tidur, esok harinya aku di tegur Beliau ﷺ : ” Wahai Hafsah Istriku, janganlah kau lakukan lagi mengganti alas tidurku seperti kemarin, hal itu hanya akan melalaikan orang untuk bangun tengah malam untuk melaksanakan sholat malam bermunajat pada ALLAH ﷻ”, aku-pun tidak berani lagi lakukan hal itu lagi sampai Beliau ﷺ wafat”. 

.

Teruskan ceritamu ya Hafsah, pinta Umar رضي الله عنه dengan penuh perhatian.“Rasulullah ﷺ setiap hari hanya makan roti dari tepung yang amat kasar di campur dengan garam jika pas ada dan di celupkan minyak, Padahal Beliau ﷺ punya hak dari baitul Mall, tapi Beliau ﷺ tidak pernah mengambilnya dan mempergunakan-nya, semuanya di bagikan pada fakir miskin” tutur Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا selanjutnya. 

“Aku pernah pagi-pagi menyapu remukan roti di kamar, oleh Rasulullah ﷺ remukan roti tersebut 

di kumpulkan dan di makan dengan lahap-nya, bahkan Beliau ﷺ berniat untuk membagikan 

pada orang lain” begitu tutur Hafsah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا menutup ceritanya. 

.

Kata Umar رضي الله عنه, 

Wahai Hafsah sekarang dengarlah olehmu, jika ada tiga sahabat yang akan mengadakan 

suatu perjalanan dengan tujuan yang sama dan jalan yang harus di tempuh itu harus sama, 

mana mungkin jika ada salah satu sahabat itu menempuh jalan yang lain akan bisa bertemu

pada satu tujuan, Rasulullah ﷺ telah sampai pada tujuan itu, Abu Bakar رضي الله عنه Insya Allah juga telah sampai pada tujuan itu dan sekarang telah berkumpul kembali dengan Rasulullah ﷺ karena Abu Bakar رضي الله عنه menempuh jalan yang sama dengan yang dulu di tempuh oleh Rasulullah ﷺ . Sekarang diriku masih dalam perjalanan belum sampai tujuan, apakah mungkin aku akan menempuh jalur lain sehingga mengakibatkan aku tidak akan sampai tujuan dan berkumpul dengan Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه ? 

.

Tidak, aku sekali-kali TIDAK akan menerima tawaran itu, karena hal itu tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه 

dan akupun tidak akan menggunakan hak-ku dari baitul mall untuk kepentingan diriku, semuanya telah aku serahkan untuk kepentingan fakir miskin.

.

Sumber: 

Disarikan dari sebuah kisah di Tarikh At-Thabari jilid I

Kamis, 25 November 2021

ISLAMISASI atau ARABISASI

 *ISLAM atau Arab?*


Tulisan ini untuk mengajak umat muslim Indonesia lebih kritis dalam memahami tentang "ISLAM dan ARAB' dengan kebudayaannya, sehingga kita tidak terperangkap dalam kesesatan pemikiran yang sempit tentang


                   *I S L A M*


1. Menjadi Muslim berbeda dengan menjadi orang Arab, maka "ISLAMISASI" jelas-jelas berbeda dengan "ARABISASI".


2. Islam itu bukan ajaran Arab, walaupun :

» Al-Qur'an berbahasa Arab, 

» dan Nabi Muhammad dari kaum Arab. 

Islam itu 'Jalan Hidup', 'Prinsip Hidup'  bukan keyakinan orang Arab.


3. Faktanya...

» Turunnya ajaran Islam justru 'ditentang' oleh kaum Arab di masa itu karena Islam datang mengubah 

» Tradisi, 

» Keyakinan, 

» Kebiasaan jahiliyah orang-orang Arab.


4. Islam datang kepada kaum Arab membawa 'Tatanan yang Baru' sama sekali, baik dalam hal 

» Tradisi, 

» Kebiasaan, 

» Akhlak, 

» Hukum, 

» dan juga Cara Hidup.


5. Perlu dicatat... !

Karena Al-Qur'an dan Nabi Muhammad berbahasa Arab, maka 'Bahasa Arab' juga tidak bisa dipisahkan dari 'Agama Islam' karena Kitab Sucinya adalah berbahasa Arab.


6. Juga sebuah kewajaran bahwa Agama Islam awalnya disebarkan oleh orang Arab karena memang agama Allah yang pamungkas ini berasal dari sana.


7. Mengenai tokoh-tokoh besar Agama Islam ini adalah orang Arab itu pun wajar saja, karena merekalah kaum awal yang beragama Islam.


8. Jadi bisa dikatakan :

»  Arab belum tentu Islam, 

» dan Islam tidak harus Arab, 

» yang jelas Islam itu pasti berdasarkan 


                 "Al-Qur'an 

                       dan 

                As-Sunnah"


9. Juga salah besar, bila dikatakan bhw "Islamisasi sama dengan Arabisasi", lantas menolak Islamisasi dengan dalih, 


"Ini Indonesia, bukan Arab" 


10. Apa bedanya? 

Jelas beda sekali, menjadi Arab atau bukan Arab itu adalah  'TAKDIR', sedangkan mengambil Islam atau mengabaikannya, itu adalah 'PILIHAN'


11. Islam itu ya Islam!!! 

Tidak perlu ada pandangan : 


   "Disana Islam Arab, 

disini Islam Nusantara", 


ini pandangan yang mungkin niatnya baik tetapi justru berpotensi

"MEMECAH BELAH ISLAM". Sebaiknya dihindari.


12. Islam itu ya Islam!!!

Panduannya Kitabullah dan Sunnah, Khulafaur Rasyidin dan juga Tabiin, Tabiut Tabiin, Ulama Salaf, apapun Madzhabnya.


13. Adapun menjadi Muslim, tidak berarti meninggalkan budaya lokal. 

» Bila bertentangan dengan Islam tinggalkan saja...

» dan bila tidak silahkan dilanjutkan.


14. Apa standar meninggalkan dan melanjutkan budaya setelah jadi Muslim? 

Ya AQIDAH, bila bertentangan dengan Aqidah, ya mutlak harus ditinggalkan.


15. Misalnya seperti budaya 

» Membuka Aurat, 

» Menyembah pohon, 

ya harus tinggalkan. 

Beda dengan 

» Arsitektur, 

» Aneka Makanan (halal), 

ya boleh dilanjutkan.


16. Islam masuk ke Cina, arsitektur masjid mirip pagoda, boleh saja tetapi sembahyang leluhur dengan hio, ya ditinggalkan, itu contohnya.


17. Islam masuk ke Indonesia, maka batik tetap lestari, bahkan menyerap nilai Islam, boleh saja tetapi menyembah batu dan patung harus dihapuskan.


18. Dalam Islam mudah saja, selama tidak dilarang syariat, amalkan saja. Namun bila sudah ada larangan syariat, maka : 


        *Islam yang harus*

            *diutamakan*


19. Maka di dalam Islam, semua produk (fisik atau non-fisik) selain Aqidah, boleh saja diadopsi termasuk teknologi juga karena termasuk "produk non-aqidah".


20. Kita mencukupkan diri pada Kitabullah dan Sunnah, itu yang terbaik.


21. Kesimpulannya...

» Belajarlah Islam, 

» Kaji terus Islam, jangan berhenti, 

» Taati Allah dan Rasulullah semata, 

» karena kita akan kembali kepada-Nya.


22. Kesimpulan lain, jadi Muslim kamu 

» gak harus pakai sorban, 

» gak harus berjubah, 

» yang jelas Pikiranmu, Lisanmu, Amalanmu, 


Harus berpedoman pada Quran-Sunnah


23. Jangan sampai terbalik, 

» kamu pakai sorban, 

» pakai sarung, 

» mengenakan peci, jubah, 

tetapi pola pikirmu dan referensimu liberal, jauh dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.


24. Lebih bagus kamu memakai 

» Batik, 

» Kemeja, 

» Kaos, 

» Celana, 

lalu setiap kamu mikir, lisan, amal, semua berdalil : 


                "Kitabullah 

                         dan 

                    Sunnah". 


25. Lebih bagus lagi, kamu memakai peci, memakai sarung, mengenakan sorban, berjubah dan semua pikiran, lisan, amalmu,  azasnya Kitabullah dan Sunnah, itu.


Jadi di dalam Agama Islam


*Aqidah dan Akhlak-lah* yang harus diutamakan... bukan simbol..



Semoga menggugah qolbu kita...