Minggu, 06 Agustus 2017

KERUGIAN BESAR YANG DI SEPELEKAN


Gambar terkait

MEYEPELEKAN ADZAN & SHOLAT

Seringkali ketika waktu sholat tiba, kita masih berada dalam kesibukan dunia, entah itu sedang bekerja, meeting, makan, dilapangan, dijalan, asik di deadpan  TV  bahkan sedang asik bermain games.  Dan kita menganggap hal tersebut remeh, enteng atau biasa saja.

Padahal sesungguhkan kita dalam kerugian yang sangat besar dan kita sering abai akan keutamaan sunah berikut ini:
1.      Mendengar dan menjawab adzan
2.      Tidak bersegera ke masjid
3.      Meninggalkan sholat qobliyah
4.      Tidak sholat berjamaah
5.      Tidak berada di shaft terdepan
6.      Bahkan seringkali mengakhirkan sholat

Padahal hal-hal demikian sangat-sangat besar besar pahala dan manfaatnya di dunia dan diakhirat, sebagaimana beberapa dalil dan hadist berikut ini :

Mendengar dan menjawab adzan

Dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kalian mendengar muadzin, maka jawablah seperti apa yang ia katakan, kemudian bershalawatlah untukku, karena barangsiapa yang bershalawat untukku, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah kepada Allah untukku al wasilah, karena ia adalah satu kedudukan di surga yang tidak sepatutnya, kecuali untuk seorang hamba Allah; dan aku berharap, (bahwa) akulah ia. Barangsiapa yang memohonkan untukku al wasilah, maka akan mendapat syafaatku.[HR Muslim].

Barang siapa berdoa setelah adzan dengan membaca Allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah … Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa.. Dia akan mendapat syafaat Rasulullah

"Dan bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang diperuntukkan bagi orang yang bertakwa". (QS Ali-Imran: 133). Allah berfirman, "Maka berlombalah kalian di dalam kebaikan". (QS Al-Ma'idah: 48).     

Tidak bersegera ke masjid

Sesungguhnya di antara karunia dan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Allah memudahkan mereka untuk melakukan amal ketaatan, atau ibadah yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah, di antara ketaatan dan amal ibadah yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah adalah bersegera untuk memenuhi panggilah Allah, yaitu bersegera menuju masjid apabila adzan sudah dikumandangkan,

Para malaikat memintakan ampunan kepada orang yang menunggu shalat dan ia juga dihukum seperti orang yang shalat.
“Para malaikat beristighfar untuk salah seorang di antara kalian selama ia ditempat shalatnya dan tidak berhadas, “ya Allah ampunilah ia, ya Allah rahmatilah ia”, senantiasa seseorang di antara kalian dalam keadaan shalat selama shalat itu yang menahannya, dan tidak ada yang mencegah dia untuk kembali ke keluarganya kecuali shalat.” (HR. Bukhari No. 659 dan Muslim No. 649) Doa ini terus diucapkan malaikat selama orang tersebut tidak keluar dari tempat shalatnya dan tidak batal wudhu’nya”

 “Setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 2382)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap langkah menuju tempat shalat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.(HR. Muslim)

“Doa antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR.Tirmidzi No. 212)

 “Jika kalian menuju masjid, hendaknya kalian (berjalan) dengan tenang. (HR. Bukhari-Muslim).

Meninggalkan sholat rawatib (qobliyah dan ba’diyah)

“Dua raka’at sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim No.725). Adapun sholat sunnah sebelum shubuh ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah rawatib dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim (tidak berpegian) maupun dalam keadaan safar.

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد).”  (HR. Muslim no. 726)

“Barangsiapa yang menjaga empat raka’at sebelum dzuhur dan empat raka’at setelahnya, diharamkan baginya neraka.” (HR. Tirmidzi No. 428 Abu Daud No.1269 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Misykatul Mashabih)

“Allah merahmati seseorang yang shalat sebelum ashar empat rakaat.” (HR. Tirmidzi No. 430 Abu Daud No. 1271 dan dihasan oleh Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ As-Shaghir)

“Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seorang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” (Dari Kitab Riyadhussalihin) (HR. Muslim no. 728).

Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.

Tidak berada di shaft terdepan

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan pahala yang terdapat dalam adzan dan shaf yang pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan diundi maka mereka akan siap diundi.”(HR. Bukhari No.615 dan Muslim No. 437)

“Barang siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjamaah, ia mendapatkan takbir yang pertama (Takbiratul ihram), dicatatkan untuknya dua kebebasan: kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi No. 241)

Rasulullah bersabda : “Innallaha wa malaikatahu yushalluuna ‘ala shaffal awwal” Sungguh Allah dan para MalaikatNya bershalawat kepada (orang orang) yang berada pada shaf pertama. (H.R. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam shahih Sunan Abu Dawud)
.
Rasulullah bersabda : Dari al ‘Irbadh bin Sariyah : Bahwasanya Rasulullah : Memohon ampun untuk (orang orang yang berada pada) shaf pertama tiga kali dan pada shaf kedua satu kali”

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (manusia yang shalat pada) shaf bagian kanan”. (HR. Abu Dawud; dinilai hasan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bariy)

Tidak sholat berjamaah

Shalat berjama’ah (di masjid) lebih utama 27 derajat dibanding shalat sendirian (di rumah) HR. Bukhari

Wahai orang-orang yang ber­iman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah se­tiap diri merenungkan, apalah yang telah diper­buatnya untuk hari esok (yaitu hari akhir). Dan bertakwalah kepada Allah! Sesung­guhnya Allah Maha Menge­tahui apapun yang kamu kerjakan. Dan janganlah keadaan kamu seperti orang-orang yang me­lupakan Allah, lalu Allah pun membuatnya lupa kepada dirinya sendiri; itulah orang-orang yang fasik. Al Hasyr : 18-19

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwasanya Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda :
“Kalau seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (azan) dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya). Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat isya dan subuh, maka  pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 437)

Rasulullah mengingatkan bahwa ada  golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Diantaranya adalah orang orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Ketahuilah bahwa  satu pertanda seseorang itu hatinya terpaut dengan masjid adalah seseorang yang selalu ke masjid memenuhi setiap panggilan adzan.

Rasulullah bersabda : “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan –Nya,” Lalu beliau menyebutkan diantaranya : Seorang yang hatinya terpaut dengan masjid” (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Mengakhirkan sholat

Orang yang shalat namun sengaja  menunda hingga akhir waktu tanpa alasan syar'i maka tergolong orang-orang yang munafik. Berikut ini Qalam Allah dan hadist Nabi Muhammad terkait hal tersebut. 

“Sesungguhnya orang-orang munafik menyangka bisa menipu Allah, tapi sungguh Allah lah yang menghinakan mereka. Yaitu ketika mereka diseru untuk shalat, mereka bermalas-malasan…” (QS. An-Nisa: 142)

"Ini adalah Shalatnya orang Munafik. ketika ia duduk mengamati matahari sampai ia berada diantara kedua tanduk syaitan, kemudian ia berdiri untuk mengerjakan shalat 4 rakaat, ia hanya mengingat Allah sedikit saja." (HR. Muslim : 103). 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya maka kelak mereka akan menemui kesesatan.” (Maryam 19: 59)

Saad bin Abi Waqas bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai orang yang melalaikan Sholat, maka jawab Baginda SAW, “yaitu mengakhirkan waktu Sholat dari waktu asalnya hingga sampai waktu Sholat lain. Mereka telah menyia-nyiakan dan melewatkan waktu Sholat, maka mereka diancam dengan Neraka Wail”.

“Maka wail-lah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS.Al-Maun:4-5) wail adalah lembah di neraka jahanam yang seandainya gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya, maka akan hancur lembur karena panasnya

“Tatkala manusia terlambat mendatangi shalat dari menempati shaf pertama, kemudian (shalat berikutnya) terlambat lagi shaf kedua, kemudian shaf ketiga (apalagi sengaja terlambat/ketinggalan shalat berjamaah), maka Allah buat hatinya suka mengakhirkan semua amal shalih.” (Syarah Riyadhus Shalihin 5/111)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu , bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya: “Assholatu bi waktiha”m“ Shalat pada waktunya .” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau ulangi dua kali, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan urutan:“ Berbakti kepada orang tua, kemudian jihad fi sabilillah .” (HR. Bukhari Muslim)

“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (HR. Ath-Thabrani)

“Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu”(Riwayat Tabrani).

Orang yang meninggalkan Sholat akan dimasukkan ke dalam Neraka Saqor. “Setelah melihat orang-orang yang bersalah itu, mereka berkata: “Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam Neraka Saqor ?”. Orang-orang yang bersalah itu menjawab: “kami termasuk dalam kumpulan orang-orang yang tidak mengerjakan Sholat”

Namun sangat disayangkan di zaman ini, banyak dari kaum muslimin yang melalaikan ibadah shalat, ia tidak datang ke masjid kecuali setelah iqamah, atau setelah imam mendapatkan beberapa raka’at, atau bahkan tidak datang ke masjid sama sekali.

sungguh kerugian yang amat besar apabila kita meninggalkan amalan sunah diatas

Ya Allah, ya Rabb, berilah kami kekuatan untuk selalu bersegera memenuhi panggilan adzan dan melaksanakan shalat berjamaah di masjid.

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad dinika wa ‘ala tho’atika”. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu”.




Sabtu, 05 Agustus 2017

SEORANG LAKILAKI MILIK IBUNYA

SUAMIKU MILIK IBUNYA

Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah ibunya. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya.
Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah pasti habis bertengkar lagi dengan suaminya.
Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan suaminya. Ayah Sarah yang juga keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya.
Sarah mulai menceritakan awal pertengkarannya dengan suaminya tadi malam.
Sarah kecewa karena suaminya telah membohongi Sarah selama ini.
Sarah menemukan buku rekening suaminya terjatuh didalam mobil.
Sarah baru tahu, kalau suaminya selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama.
Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terima pun sejumlah uang yang sama.
Berarti sudah 1 tahun lebih, suaminya membagi uangnya, setengah untuk Sarah, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain??
Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.
*"Sarah...,*
* Yang pertama, langkahmu datang ke rumah ayah sudah dilaknat Allah dan para MalaikatNya',*
*karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu"*
Kalimat ayah sontak membuat Sarah kebingungan. Sarah mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.
* "Yang kedua,* *mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya.*
*Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu.*
*Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga.*
Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh". Lanjut ayahnya.
"Sarah.., suamimu menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita. Suamimu tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama.
Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan suamimu, maka hanya kamulah wanita yang
memilikinya".
"Suamimu meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu.
Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal watakmu" mata ayah mulai berkaca-kaca.
*"Sarah...,*
*kamu harus tahu, setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu.*
*Jika suamimu ridho pdmu,*
*maka Allah pun Ridho.*
*Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya.*
Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya.
Jangan sampai kamu menjadi penghalang bakti suamimu kepada ibundanya".
*"Suamimu, dan harta suamimu adalah milik ibu nya".*
Ayah mengatakan itu dengan tangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya.
Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan.
• Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa hingga anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja.
• Kemudian anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya.
• Bekerja untuk keluarga barunya.
• Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya.
• Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. sebulan sekali, atau bahkan hanya1 tahun sekali.
"Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu. Kenapa?
Karena rumahnya kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana.
Anak-anakmu pun tidak akan betah disana.

Sarah.., mendengar ini ayah sakit sekali".
"Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana.
Bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal disana?"
*"Uang itu diberikan untuk ibunya.* Suamimu ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan.
Dari uang itu ibu suamimu hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu" lanjut ayah.
Sarah membatin dalam hatinya, uang yang diberikan suaminya sering dikeluhkannya kurang. Karena Sarah butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah.
Sarah juga sangat menjaga penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di spa.
Berjalan-jalan setiap minggu di mall. Juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.
Sarah menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan.
Tukang gorengan yang berhasil :
• Menjadikan suaminya seorang sarjana,
• mendapatkan pekerjaan yang di idam-idamkan banyak orang.
• Berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.

"Ayaaah, maafkan Sarah", tangis sarah meledak.
Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk di samping Sarah segera memeluk Sarah.
*"Sarah...*
*• kembalilah ke rumah suamimu.*
*Ia orang baik nak...*
*• Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya.*
*• Bantu suamimu menggapai surganya,* *dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga".*
Ibunda sarah membisikkan kalimat itu ke telinga Sarah.
Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya.
Bathinnya sakit, menyesali sikapnya.
Sarahpun pulang menghadap suaminya dan sambil menangis memohon maaf kpd suaminya atas prasangka yg salah selama ini.
Di lain hari, sarahpun mengikuti suaminya bersilaturahmi kpd ibu kandung suaminya alias mertua dirinya.
Suaminya meneteskan air mata menatap istrinya yg di tangan istrinya tertenteng 4 liter minyak goreng untuk mertuanya.

Tetesan air mata suami bukan masalah jumlah liternya tapi karena perubahan istrinya yg senang dan nampak ihlas hendak datang kpd orang tuanya alias mertua istrinya.
Seterusnya Sarah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya.
Sesekali waktu, Sarah bukan mengajak suaminya ke Mall tapi minta anjangsana ke rumah mertuanya dan juga orang tuanya.

Subhanallah....
Rabbighfirli waliwali dayya warham huma kama rabbayani shoghiro

Kamis, 03 Agustus 2017

DAHSYATNYA TITIAN SHIRAT (Jembatan diatas neraka)




DAHSYATNYA TITIAN SHIRAT (Jembatan diatas neraka)

Jembatan shirâthal mustaqim merupakan jembatan di atas neraka jahannam yang menghubungkan dengan pintu surga, namun sebelum menuju pintu surga. Semua manusia harus bisa melalui jembatan yang digambarkan sebagai jembatan yang sangat tipis.

Bahwa seluruh manusia pasti akan melewati jembatan shirâth sebagai bentuk pertanggungan jawab akan segala amalnya di dunia.
“Dan tidak ada seseorang pun diantara kamu, melainkan akan mendatanginya. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang telah ditentukan bagi semua orang, tidak terkecuali. (Orang baik di kala di dunia ataupun dia orang jahat, dia pasti  mendatangi neraka.) Kemudian itu akan kami selamatkan orang-orang yang bertakwa dan akan kami biarkan orang-orang yang zalim di dalamnya dalam keadaan berlutut.” (QS Maryam 71-72)

Tentang kengerian melewati shirâth Imam al-Qurthubi rahimahullah mengambarkan dalam kitabnya at-Tadzkirah. Beliau berkata, “Sekarang cobalah renungkan tentang kelak yang akan Anda alami. Rasa takut yang memenuhi hatimu ketika awal pertama Anda menyaksikan shirâth yang begitu tipis untuk dilalui manusia. Engkau memandang dengan matamu kedalaman api neraka Jahanam yang berada di bawahnya. Engkau juga mendengar gemuruh dan gejolaknya. Sementara engkau harus melewati shirath itu sekalipun tubuhmu dalam kondisi lemah, hatimu gundah, kakimu bergetar karena takut tergelincir. Saat yang sama punggungmu terasa berat karena memikul dosa. Hal yang  tidak mungkin kamu bisa melakukannya seandainya engkau berjalan di punggung bumi, apa lagi untuk di atas shirâth yang begitu lembut dan tajam. Bagaimana kiranya saat kamu meletakkan salah satu kakimu di atasnya, lalu engkau merasakan ketajamannya! Sehingga mengharuskanmu segera mengangkat tumitmu yang lain! Engkau menyaksikan banyaknya orang-orang yang berada di hadapanmu tergelincir kemudian berjatuhan! Mereka lalu ditarik oleh para malaikat penjaga neraka dengan besi pengait. Engkau melihat bagaimana mereka dalam keadaan terjungkal ke dalam neraka dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Wahai betapa mengerikannya pemandangan tersebut. Perjalanan yang begitu sulit, di jalan yang begitu sempit.”


Rasulullah dan umatnya yang pertama masuk surga.

Siapakah yang pertama menghuni/memasuki surga ?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat. Lalu aku minta dibukakan. Maka penjaga pintu Surga berkata, ‘Siapakah engkau?’ Lalu aku jawab,’Aku Muhammad’. Lantas malaikat tersebut berkata,’Aku diperintahkan dengan sebab engkau. Aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelum engkau’.” (HR Muslim).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Umat ini (umat Islam) adalah umat yang lebih dahulu keluar dari tanah, lebih dahulu masuk dalam naungan al Arsy, dan lebih dahulu dalam perhitungan dan hisab. Mereka juga lebih dahulu melewati jembatan shirath, dan paling awal masuk surga. Surga dilarang untuk para nabi, hingga Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukinya. Dan (surga) dilarang untuk semua umat, sehingga umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukinya.”

Bentuk Jembatan shirâth

-         Lebih tipis dari sehelai rambut
-         Setajam mata pedang
-         Licin menggelincirkan
-         Terdapat besi-besi runcing  yang siap mencabik-cabik
-         Gelap

Ibnu Mas’ud berkata ,” Jembatan shirath merupakan jalan yang lurus sepanjang neraka. Bentuknya seperti pedang yang panjang, dapat mematahkan , dan licin. Di atas jembatan shirath ini terdapat besi-besi yang berasal dari neraka. Besi-besi ini mencakar dan mencengkram siapa saja yang dikendaki. Diantara orang-orang yang menyeberangi shirath, terdapat orang yang berlari secepat kilat hingga akhirnya dia dapat selamat. Ada yang berlari seperti angin hingga dia selamat sampai di seberang. Ada yang berlari secepat kuda. Ada pula yang berlari biasa dan berjalan.” (diriwayatkan oleh Thabrani dan Bahihaqi dengan sanad yang shahih)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Kemudian jembatan shirath dibentangkan di atas neraka dan aku  adalah Rasul pertama yang menyeberanginya dan dilanjutkan dengan umatku. Pada saat itu tidak seorangpun yang berbicara. Hanya para Rasul yang berbicara. Mereka mengucapkan,” Ya Allah, selamatkan! Selamatkan!” Di dalam neraka terdapat beberapa besi runcing (tempat menggantungkan daging) seperti duri As-Sa’dan. Apakah kalian tahu apa y ang dimaksud dengan duri As- Sa’dan? Mereka menjawab,” Ya kami tahu’ Rasulullah SAW bersabda, “Besi-besi runcing itu seperti duri AS-Sa’dan. Namun hanya Allah yang tahu sebesar apa besi-besi runcing itu. Besi-besi itu akan menyambar manusia karena amal perbuatannya yang pernah dilakukan di dunia …”(HR Bukhari dan Muslim)

Cara melewati titian shirâth bagi orang mukmin dan munafik

Orang mukmin,
Orang mukmin ketika melawati shirâth yang gelap mereka mendapati cahaya dari depan dan kanan mereka.

(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar". (QS al hadid 12)

Siapakah orang mukmin itu ?
adalah orang yang takwa kepada Allah SWT dengan sebenar-sebenarnya takwa. Dalam arti senantiasa menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya, dan berjihad dengan harta jiwa mereka pada jalan Allah SWT.
-         orang Mukmin bergetar hatinya apabila disebut nama Allah SWT. (QS. 8/Al-Anfal: 2).
-         "Orang-orang yang beriman, pria dan wanita, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruj, dan mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, membayar zakat, serta taat kepada Allah dan Rosul-Nya." (QS. 9/At-Taubah: 71).
-         orang mukmin khusyu’ dalam sholat, dan senantiasa melakukan keta’atan. (QS. 23/Al- Mukminuun: 1-3).
-         apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Allah, orang mukmin segera bersujud dan bertasbih serta tidak sombong.( As-Sajdah: 15)

Darimana cahaya itu didapat ?
 “Berikanlah kabar gembira kepada orang2 yang berjalan menuju mesjid pada malam gelap gulita, bahwa bagi mereka cahaya yang sempurna pada hari kiamat kelak.” (Sunan Abu Dawud 1/209 no.561)

“Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku, dalam penglihatanku, dalam pendengaranku, di sebelah kananku, di sebelah kiriku, di sebelah atasku, di sebelah bawahku, di depanku, di belakangku dan jadikanlah aku bercahaya.” (HR. Bukhari 5841) – doa kemasjid -


Orang Munafik
Orang Munafik  ketika melewati shirâth yang gelap, mereka tidak memiliki penerangan

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (QS al Hadid 13)


Siapakah orang munafik itu ?
-         Orang yang malas sholat subuh dan isya berjamaah
Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

-         Orang yang mengakhirkan sholat
Ini adalah shalat orang munafik. Ia duduk hingga matahari berada antara dua tanduk setan. Lalu ia mengerjakan shalat ‘Ashar empat raka’at. Ia hanyalah mengingat Allah dalam waktu yang sedikit.” (HR. Muslim no. 622).

-         Orang yang meninggalkan sholat berjamaah
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shalat jama’ah sedemikian adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf.” (HR. Muslim no. 654).

-         Dekat dengan masjid tapi tidak ke masjid
Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan,
“Cukup disebut seseorang memiliki tanda munafik jika ia adalah tetangga masjid namun tak pernah terlihat di masjid” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab 5: 458 dan Ma’alimus Sunan 1: 160. Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 365).

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Mereka melewati shirath sesuai dengan tingkat amalan mereka. Di antara mereka ada yang diberi cahaya seperti gunung, ada yang diberi cahaya yang sebesar pohon, ada cahayanya setinggi orang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya sebatas menerangi jari kakinya, sesekali menyala sesekali padam.”

Adapun orang-orang munafik, mereka mendapatkan lampu akan tetapi kemudian mati. Ini sebagai balasan setimpal karena di dunia mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Padahal hakikatnya, mereka menipu diri mereka sendiri.


Cara manusia melewati shirâth

Ada yang melintasi shirath secepat kilat, ada yang secepat kedipan mata, ada yang seperti angin, ada yang seperti menaiki kendaraan, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, ada yang bergelantungan dan adapula yang tergelincir ke neraka. Maka hendaklah seseorang melihat bagaimana ia berjalan di atas syariat ketika di dunia, karena bagaimana ia meniti shirath tergantung bagaimana ia meniti kebenaran saat di dunia. Selangkah dibalas dengan selangkah, sebagai balasan yang setimpal. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS an-Naml 90)

Agar mudah meniti Shirath
Tingkat kemudahan dan kecepatan seseorang dalam meniti shirath dipengaruhi oleh amal setiap manusia ketika didunia dimana jalan menuju Allah hanya ada tiga macam, “baadiruu… saari’uu... dan saabiquu!”, bersegeralah! bercepat-cepatlah! berlombalah! Dan yani ‘falyatanaafisuu!’, salin berkejar-kejaran.

-         Apabila adzan telah berkumandang maka bersegeralah
Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari hadits Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan shalat selama empat puluh hari karena Allah SWT dan dia mendapatkan takbir yang pertama, maka akan ditulis baginya kebebasan, kebebasan dari neraka dan kebebasan dari nifaq”

-         Berbuat baik : fastabiqul khairaat  Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah: 148).

-         Taubat :“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs Ali Imran: 133)

-         Orang yang amanah dan menjaga silaturahmi
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Lalu diutuslah amanah dan rohim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kair-kanan shiraath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat”. Aku bertanya: “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata?

-         Melakukan qobliyah dan ba’diyah dzhuhur
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya dari Ummu Habibah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang selalu mengerjakan empat rakaat sebelum zuhur dan empat rakaat sesudahnya maka Allah akan mengharamkan dirinya atas api neraka”


Siapakah yang selamat dari jembatan shirâth

QS Maryam 72, Allah akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dari melewati jembatan shirâth, kemudian orang mukmin (beriman) sedangkan orang muslim yaitu orang-orang yang berbuat maksiat (ada perintah puasa dia tidak berpuasa ada perintah sholat dia tidak sholat, punya kemampuan berhaji tapi tidak berhaji dan maksiat lainnya) tidak akan selamat melawati jembatah shirâth mereka akan mampir di neraka sampai Rasululloh memberikan syafaatnya.
Dan Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ada di tangan-Nya, sesungguhnya dasarnya neraka itu dapat dicapai dengan perjalanan tujuh puluh tahun lamanya”.


Masuk surga dengan mudah

Amalkan doa ini bada maghrib : “Allahumma hasibnii hisaban yasiro”\

Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca, “Allahumma haasibnii hisaaban yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).”

Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.”

Sholat di awal waktu

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Qatadah bin Rib’iy mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ” ‘Sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu shalat lima waktu, dan Aku berjanji bahwa barangsiapa yang menjaga waktu-waktunya pasti Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka dia tidak mendapatkan apa yang aku janjikan”.

Tausiah dzuhur, 
Ust. Hasyim Adnan ,LC